Rabu, 06 April 2016

KEPEMIMPINAN (LEADERSHIP)

KEPEMIMPINAN 
Pengertian Kepemimpinan (Leadership) Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan. Hal ini dikarenakan banyak sekali orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan tersebut. Namun demikian, semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsur yang sama. Sarros dan Butchatsky (1996), "leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". Menurut definisi tersebut, kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. Sedangkan menurut Anderson (1988), "leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance". Berdasarkan definisi-definisi di atas, kepemimpinan memiliki beberapa implikasi. Pertama: kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain, yaitu para karyawan atau bawahan (followers). Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. Walaupun demikian, tanpa adanya karyawan atau bawahan, kepemimpinan tidak akan ada juga. Kedua: seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Menurut French dan Raven (1968), kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari:  Reward Power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya.  Coercive Power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya  Legitimate Power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya.  Referent Power, yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya, reputasinya atau karismanya.  Expert Power, yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. Ketiga: kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity), sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion), pengetahuan (cognizance), keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment), kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. Walaupun kepemimpinan (leadership) seringkali disamakan dengan manajemen (management), kedua konsep tersebut berbeda. Perbedaan antara pemimpin dan manajer dinyatakan secara jelas oleh Bennis and Nanus (1995). Pemimpin berfokus pada mengerjakan yang benar sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat ("managers are people who do things right and leaders are people who do the right thing"). Kepemimpinan memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat, sedangkan manajemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin. Model-Model Kepemimpinan Banyak studi mengenai kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang dibahas dari berbagai perspektif yang telah dilakukan oleh para peneliti. Analisis awal tentang kepemimpinan, dari tahun 1900-an hingga tahun 1950-an, memfokuskan perhatian pada perbedaan karakteristik antara pemimpin (leaders) dan pengikut/karyawan (followers). Karena hasil penelitian pada saat periode tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat satu pun sifat atau watak (trait) atau kombinasi sifat atau watak yang dapat menerangkan sepenuhnya tentang kemampuan para pemimpin, maka perhatian para peneliti bergeser pada masalah pengaruh situasi terhadap kemampuan dan tingkah laku para pemimpin. Studi-studi kepemimpinan selanjutnya berfokus pada tingkah laku yang diperagakan oleh para pemimpin yang efektif. Untuk memahami faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkah laku para pemimpin yang efektif, para peneliti menggunakan model kontingensi (contingency model). Dengan model kontingensi tersebut para peneliti menguji keterkaitan antara watak pribadi, variabel-variabel situasi dan keefektifan pemimpin. Studi-studi tentang kepemimpinan pada tahun 1970-an dan 1980-an, sekali lagi memfokuskan perhatiannya kepada karakteristik individual para pemimpin yang mempengaruhi keefektifan mereka dan keberhasilan organisasi yang mereka pimpin. Hasil-hasil penelitian pada periode tahun 1970-an dan 1980-an mengarah kepada kesimpulan bahwa pemimpin dan kepemimpinan adalah persoalan yang sangat penting untuk dipelajari (crucial), namun kedua hal tersebut disadari sebagai komponen organisasi yang sangat komplek. Dalam perkembangannya, model yang relatif baru dalam studi kepemimpinan disebut sebagai model kepemimpinan transformasional. Model ini dianggap sebagai model yang terbaik dalam menjelaskan karakteristik pemimpin. Konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan watak, gaya dan kontingensi. Berikut ini akan dibahas tentang perkembangan pemikiran ahli-ahli manajemen mengenai model-model kepemimpinan yang ada dalam literatur: (a) Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership). Pada umumnya studi-studi kepemimpinan pada tahap awal mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para pemimpin, seperti misalnya: kecerdasan, kejujuran, kematangan, ketegasan, kecakapan berbicara, kesupelan dalam bergaul, status sosial ekonomi mereka dan lain-lain (Bass 1960, Stogdill 1974). Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori faktor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut, yaitu kapasitas, prestasi, tanggung jawab, partisipasi, status dan situasi. Namun demikian banyak studi yang menunjukkan bahwa faktor-faktor yang membedakan antara pemimpin dan pengikut dalam satu studi tidak konsisten dan tidak didukung dengan hasil-hasil studi yang lain. Disamping itu, watak pribadi bukanlah faktor yang dominant dalam menentukan keberhasilan kinerja manajerial para pemimpin. Hingga tahun 1950-an, lebih dari 100 studi yang telah dilakukan untuk mengidentifikasi watak atau sifat personal yang dibutuhkan oleh pemimpin yang baik, dan dari studi-studi tersebut dinyatakan bahwa hubungan antara karakteristik watak dengan efektifitas kepemimpinan, walaupun positif, tetapi tingkat signifikasinya sangat rendah (Stogdill 1970). Bukti-bukti yang ada menyarankan bahwa "leadership is a relation that exists between persons in a social situation, and that persons who are leaders in one situation may not necessarily be leaders in other situation" (Stogdill 1970). Apabila kepemimpinan didasarkan pada faktor situasi, maka pengaruh watak yang dimiliki oleh para pemimpin mempunyai pengaruh yang tidak signifikan. Kegagalan studi-studi tentang kepimpinan pada periode awal ini, yang tidak berhasil meyakinkan adanya hubungan yang jelas antara watak pribadi pemimpin dan kepemimpinan, membuat para peneliti untuk mencari faktor-faktor lain (selain faktor watak), seperti misalnya faktor situasi, yang diharapkan dapat secara jelas menerangkan perbedaan karakteristik antara pemimpin dan pengikut. (b) Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model kepemimpinan situasional merupakan pengembangan model watak kepemimpinan dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan. Studi tentang kepemimpinan situasional mencoba mengidentifikasi karakteristik situasi atau keadaan sebagai faktor penentu utama yang membuat seorang pemimpin berhasil melaksanakan tugas-tugas organisasi secara efektif dan efisien. Dan juga model ini membahas aspek kepemimpinan lebih berdasarkan fungsinya, bukan lagi hanya berdasarkan watak kepribadian pemimpin. Hencley (1973) menyatakan bahwa faktor situasi lebih menentukan keberhasilan seorang pemimpin dibandingkan dengan watak pribadinya. Menurut pendekatan kepemimpinan situasional ini, seseorang bisa dianggap sebagai pemimpin atau pengikut tergantung pada situasi atau keadaan yang dihadapi. Banyak studi yang mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik situasi khusus yang bagaimana yang mempengaruhi kinerja para pemimpin. Hoy dan Miskel (1987), misalnya, menyatakan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi kinerja pemimpin, yaitu sifat struktural organisasi (structural properties of the organisation), iklim atau lingkungan organisasi (organisational climate), karakteristik tugas atau peran (role characteristics) dan karakteristik bawahan (subordinate characteristics). Kajian model kepemimpinan situasional lebih menjelaskan fenomena kepemimpinan dibandingkan dengan model terdahulu. Namun demikian model ini masih dianggap belum memadai karena model ini tidak dapat memprediksikan kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang mana yang lebih efektif dalam situasi tertentu. (c) Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) Model kajian kepemimpinan ini memberikan informasi tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para pemimpin yang efektif. Tingkah laku para pemimpin dapat dikatagorikan menjadi dua dimensi, yaitu struktur kelembagaan (initiating structure) dan konsiderasi (consideration). Dimensi struktur kelembagaan menggambarkan sampai sejauh mana para pemimpin mendefinisikan dan menyusun interaksi kelompok dalam rangka pencapaian tujuan organisasi serta sampai sejauh mana para pemimpin mengorganisasikan kegiatan-kegiatan kelompok mereka. Dimensi ini dikaitkan dengan usaha para pemimpin mencapai tujuan organisasi. Dimensi konsiderasi menggambarkan sampai sejauh mana tingkat hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya, dan sampai sejauh mana pemimpin memperhatikan kebutuhan sosial dan emosi bagi bawahan seperti misalnya kebutuhan akan pengakuan, kepuasan kerja dan penghargaan yang mempengaruhi kinerja mereka dalam organisasi. Dimensi konsiderasi ini juga dikaitkan dengan adanya pendekatan kepemimpinan yang mengutamakan komunikasi dua arah, partisipasi dan hubungan manusiawi (human relations). Halpin (1966), Blake and Mouton (1985) menyatakan bahwa tingkah laku pemimpin yang efektif cenderung menunjukkan kinerja yang tinggi terhadap dua aspek di atas. Mereka berpendapat bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menata kelembagaan organisasinya secara sangat terstruktur, dan mempunyai hubungan yang persahabatan yang sangat baik, saling percaya, saling menghargai dan senantiasa hangat dengan bawahannya. Secara ringkas, model kepemimpinan efektif ini mendukung anggapan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang dapat menangani kedua aspek organisasi dan manusia sekaligus dalam organisasinya. (d) Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin, tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional. Kalau model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan tipe kepemimpinan yang berbeda, maka model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas, yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi atau variabel situasional dengan watak atau tingkah laku dan kriteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987). Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. Menurut Fiedler, ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations), struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power). Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan, dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin. Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku. Kekuatan posisi menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan, promosi dan penurunan pangkat (demotions).Model kontingensi yang lain, Path-Goal Theory, berpendapat bahwa efektifitas pemimpin ditentukan oleh interaksi antara tingkah laku pemimpin dengan karakteristik situasi (House 1971). Menurut House, tingkah laku pemimpin dapat dikelompokkan dalam 4 kelompok: supportive leadership (menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan bawahan dan menciptakan iklim kerja yang bersahabat), directive leadership (mengarahkan bawahan untuk bekerja sesuai dengan peraturan, prosedur dan petunjuk yang ada), participative leadership (konsultasi dengan bawahan dalam pengambilan keputusan) dan achievement-oriented leadership (menentukan tujuan organisasi yang menantang dan menekankan perlunya kinerja yang memuaskan). Menurut Path-Goal Theory, dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada. Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan modelmodel sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi, namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi, tingkah laku pemimpin dan variabel situasional. (e) Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) Model kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. Burns (1978) merupakan salah satu penggagas yang secara eksplisit mendefinisikan kepemimpinan transformasional. Menurutnya, untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang model kepemimpinan transformasional, model ini perlu dipertentangkan dengan model kepemimpinan transaksional. Kepemimpinan transaksional didasarkan pada otoritas birokrasi dan legitimasi di dalam organisasi. Pemimpin transaksional pada hakekatnya menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi. Disamping itu, pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas organisasi. Untuk memotivasi agar bawahan melakukan tanggungjawab mereka, para pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan dan hukuman kepada bawahannya. Sebaliknya, Burns menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan. Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan, mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi, dan bawahan harus menerima dan mengakui kredibilitas pemimpinnya.Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa "the dynamic of transformational leadership involve strong personal identification with the leader, joining in a shared vision of the future, or goingbeyond the self-interest exchange of rewards for compliance". Dengan demikian, pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. Pemimpin transformasional juga harusmempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawahannya, serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan. Menurut Yammarino dan Bass (1990), pemimpin transformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar. Yammarino dan Bass (1990) juga menyatakan bahwa pemimpin transformasional mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realistik, menstimulasi bawahan dengan cara yang intelektual, dan menaruh parhatian pada perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh bawahannya. Dengan demikian, seperti yang diungkapkan oleh Tichy and Devanna (1990), keberadaan para pemimpin transformasional mempunyai efek transformasi baik pada tingkat organisasi maupun pada tingkat individu. Dalam buku mereka yang berjudul "Improving Organizational Effectiveness through Transformational Leadership", Bass dan Avolio (1994) mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional mempunyai empat dimensi yang disebutnya sebagai "the Four I's". Dimensi yang pertama disebutnya sebagai idealized influence (pengaruh ideal). Dimensi yang pertama ini digambarkan sebagai perilaku pemimpin yang membuat para pengikutnya mengagumi, menghormati dan sekaligus mempercayainya. Dimensi yang kedua disebut sebagai inspirational motivation (motivasi inspirasi). Dalam dimensi ini, pemimpin transformasional digambarkan sebagai pemimpin yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas terhadap prestasi bawahan, mendemonstrasikan komitmennya terhadap seluruh tujuan organisasi, dan mampu menggugah spirit tim dalam organisasi melalui penumbuhan entusiasme dan optimisme. Dimensi yang ketiga disebut sebagai intellectual stimulation (stimulasi intelektual). Pemimpin transformasional harus mampu menumbuhkan ide-ide baru, memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi bawahan, dan memberikan motivasi kepada bawahan untuk mencari pendekatan-pendekatan yang baru dalam melaksanakan tugas-tugas organisasi. Dimensi yang terakhir disebut sebagai individualized consideration (konsiderasi individu). Dalam dimensi ini, pemimpin transformasional digambarkan sebagai seorang pemimpin yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian masukan-masukan bawahan dan secara khusus mau memperhatikan kebutuhan-kebutuhan bawahan akan pengembangan karir. Walaupun penelitian mengenai model transformasional ini termasuk relatif baru, beberapa hasil penelitian mendukung validitas keempat dimensi yang dipaparkan oleh Bass dan Avilio di atas. Banyak peneliti dan praktisi manajemen yang sepakat bahwa model kepemimpinan transformasional merupakan konsep kepemimpinan yang terbaik dalam menguraikan karakteristik pemimpin (Sarros dan Butchatsky 1996). Konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan-pendekatan watak (trait), gaya (style) dan kontingensi, dan juga konsep kepemimpinan transformasional menggabungkan dan menyempurnakan konsep-konsep terdahulu yang dikembangkan oleh ahli-ahli sosiologi (seperti misalnya Weber 1947) dan ahli-ahli politik (seperti misalnya Burns 1978). Beberapa ahli manajemen menjelaskan konsep-konsep kepimimpinan yang mirip dengan kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan yang karismatik, inspirasional dan yang mempunyai visi (visionary). Meskipun terminologi yang digunakan berbeda, namun fenomenafenomana kepemimpinan yang digambarkan dalam konsep-konsep tersebut lebih banyak persamaannya daripada perbedaannya. Bryman (1992) menyebut kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan baru (the new leadership), sedangkan Sarros dan Butchatsky (1996) menyebutnya sebagai pemimpin penerobos (breakthrough leadership). Disebut sebagai penerobos karena pemimpim semacam ini mempunyai kemampuan untuk membawa perubahan-perubahan yang sangat besar terhadap individu-individu maupun organisasi dengan jalan: memperbaiki kembali (reinvent) karakter diri individu-individu dalam organisasi ataupun perbaikan organisasi, memulai proses penciptaan inovasi, meninjau kembali struktur, proses dan nilai-nilai organisasi agar lebih baik dan lebih relevan, dengan cara-cara yang menarik dan menantang bagi semua pihak yang terlibat, dan mencoba untuk merealisasikan tujuan-tujuan organisasi yang selama ini dianggap tidak mungkin dilaksanakan. Pemimpin penerobos memahami pentingnya perubahan-perubahan yang mendasar dan besar dalam kehidupan dan pekerjaan mereka dalam mencapai hasil-hasil yang diinginkannya. Pemimpin penerobos mempunyai pemikiran yang metanoiac, dan dengan bekal pemikiran ini sang pemimpin mampu menciptakan pergesaran paradigma untuk mengembangkan Praktekorganisasi yang sekarang dengan yang lebih baru dan lebih relevan. Metanoia berasaldari kata Yunani meta yang berarti perubahan, dan nous/noos yang berarti pikiran. Dengan perkembangan globalisasi ekonomi yang makin nyata, kondisi di berbagai pasar dunia makin ditandai dengan kompetisi yang sangat tinggi (hyper-competition). Tiap keunggulan daya saing perusahaan yang terlibat dalam permainan global (global game) menjadi bersifat sementara (transitory). Oleh karena itu, perusahaan sebagai pemain dalam permainan global harus terus menerus mentransformasi seluruh aspek manajemen internal perusahaan agar selalu relevan dengan kondisi persaingan baru. Pemimpin transformasional dianggap sebagai model pemimpin yang tepat dan yang mampu untuk terus-menerus meningkatkan efisiensi, produktifitas, dan inovasi usaha guna meningkatkan daya saing dalam dunia yang lebih bersaing. KEPEMIMPINAN KARISMATIK Kepemimpinan karismatik selama ini selalu identik dengan pengamatan pemimpin di politik dan keagamaan bukan kepemimpinan organisasi dan perusahaan. Karisma berasal dari bahasa yunani diartikan karunia diispirasi ilahi (divenely inspired gift) seperti kemampuan meramal dimasa yang akan datang. Para ahli sepakat mengartikan karisma sebagai "suatu hasil persepsi para pengikut dan atribut-atribut yang dipengaruhi oleh kemampuan-kemampuan aktual dan prilaku dari para pemimpin dalam konteks situasi kepemimpinan dan dalam kebutuhan-kebutuhn individual maupun kolektif para pengikut " (Yukl, 1994:269) Beberapa teori karismatik Ada teori atribusi yang menyatakan bahwa kepemimpinan karismatik didasarkan atas asumsi bahwa karisma adalah sebuah fenomena atribusi (Conger & Kanungo, 1987) dan ada juga teori konsep sendiri yang menyangku karismatik seorang pemimpin dapat dilihat pada sejauh mana apeksi seorang pengikut, keterlibatan emosi dan motivasi yang tinggi didasari pengorbanan jiwa yang luar biasa (Shamir, house, Arthur, 1993) selain konsep teori tinjauan psiko-analisa karisma seorang pemimpin diberlakukan sangat tidak realistis dan tingkat identifikasi ekstrim oleh para pengikut baik melalui pemindahan karisma masa lalu seperti karisma trah Ir. Sukarno yang melegendaris ada pada mantan presiden Megawati yang mengarah pada kultus dengan berbagai konsekuensi negatif. konsekuensi karismatik negatif (Conger, 1990) dapat dilihat dari pola hubungan antara lain :  Hubungan antar pribadi yang jelek tidak sesuai dengan pendahulunya.  Konsekuensi negatif dari prilaku impulsif dan tidak konvensional.  Konsekuensi negatif dari manajemen kesan bahwa dirnya sangat dibutuhkan pengikut atau karena sekedar mendompleng nama pendahulunya.  Praktik administrasi lemah, karismatik dalam memimpin tapi sangat lemah dalam penataan aktiftas yang membutuhkan dukungan administratif.  Konsekuensi negatif dari dari rasa percaya diri yang lemah karena berbeda kapasitas dan kredibilitas dan dirinya memuja dirinya berlebihan (Narcisis).  Gagal untuk merencanakan suksesi kepemimpinan karena belum tentu ada yang selevel dengan dirinya sehingga mematikan pengkaderan dlam organisasi. LEADERSHIP DALAM ORGANISASI PROFESIONAL Istilah leadership berasal dari kata leader artinya pemimpin atau to lead artinya memimpin. Leadership sudah menjadi kajian tersendiri dalam ilmu manajemen, oleh karena sifatnya yang universal dan menjadikan bahan diklat dalam perusahaan maupun dalam organisasi. Saya katakan setiap orang punya bakat jadi pemimpin dan kepemimpinan adalah ilmunya dan bisa diaplikasikan setelah anda menjadi pemimpin. Definisi kepemimpinan Sehubungan dengan kepemimpinan Bennis (1959:259) menyimpulkan: "selalu tanpaknya, konsep tentang kepemimpinan menjauh dari kita atau muncul dalam bentuk lain yang lagi-lagi mengejek kita dengan kelicinan dan kompleksitasnya. dengn demikian kita mendptkan sutu proliferasi dari istlah-istilah yang tak habis-habisnya harus dihadapi... dan konsep tersebut tetap tidak didefinisikan dengan memuaskan". Garry Yukl (1994:2) menyimpulkan definisi yang mewakili tentang kepemimpinan antara lain sebagai berikut :  Kepemimpinan adalah prilaku dari seorang individu yang memimpin aktifitas-aktifitas suatu kelompok kesuatu tujuan yang ingin dicapai bersama (share goal) (Hemhill& Coons, 1957:7)  Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, kearah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu (Tannenbaum, Weschler & Massarik, 1961:24).  Kepemimpinan adalah pembentukan awal serta pemeliharaan struktur dalam harapan dan interaksi (Stogdill, 1974:411).  Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada dan berada diatas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan rutin organisasi (Katz & Kahn, 1978:528).  Kepeimpinan adalah proses mempengaruhi aktifitas sebuah kelompok yang diorganisasi kearah pencapaian tujuan (Rauch & Behling, 1984:46).  Kepemimpinan adalah sebuah proses memberi arti (pengarahan yang berarti) terhadap usaha kolektif dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang dinginkan untuk mencapai sasaran (Jacob & Jacques, 1990:281).  Para pemimpin adalah mereka yang secara konsisten memberi kontribusi yang efektif terhadap orde sosial dan yang diharapkan dan dipersepsikan melakukannya (Hosking, 1988:153).  Kepemimpinan sebagai sebuah proses pengaruh sosial yang dalam hal ini pengaruh yang sengaja dijalankan oleh seseorang terhadap orang lain untuk menstruktur aktifitas-aktifitas serta hubungan-hubungan didalam sebuah kelompok atau organisasi (Yukl, 1994:2). Perkembangan Paradigma Kepemimpinan: Gaya, Tipologi, Model dan Teori Kepemimpinan Jenis, gaya, dan ciri yang menandai perkembangan kepemimpinan masa lalu dapat dilihat dari pengetahuan atau pun teori kepemimpinan yang berkembang dalam kurun waktu tersebut. Abad 20 baru saja berlalu. Kita dapat mencatat sejarah kemanusiaan yang penuh dinamika perubahan di abad itu; termasuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tak terkecuali perkembangan pengetahuan tentang paradigma kepemimpinan yang dapat meliputi gaya kepemimpinan, tipologi kepemimpinan, model-model kepemimpinan, dan teori-teori kepemimpinan. Sekalipun secara konseptual pada ketiganya terdapat perbedaan, namun sebagai telaan mengenai substansi yang sama akan terdapat korelasi bahkan interdependensi antar ketiganya. a. Gaya Kepemimpinan Gaya kepemimpinan, pada dasarnya mengandung pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin, yang menyangkut kemampuannya dalam memimpin. Perwujudan tersebut biasanya membentuk suatu pola atau bentuk tertentu. Pengertian gaya kepemimpinan yang demikian ini sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh Davis dan Newstrom (1995). Keduanya menyatakan bahwa pola tindakan pemimpin secara keseluruhan seperti yang dipersepsikan atau diacu oleh bawahan tersebut dikenal sebagai gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin, pada dasarnya dapat diterangkan melalui tiga aliran teori berikut ini. 1. Teori Genetis (Keturunan). Inti dari teori menyatakan bahwa “Leader are born and nor made” (pemimpin itu dilahirkan (bakat) bukannya dibuat). Para penganut aliran teori ini mengetengahkan pendapatnya bahwa seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan dengan bakat kepemimpinan. Dalam keadaan yang bagaimanapun seseorang ditempatkan karena ia telah ditakdirkan menjadi pemimpin, sesekali kelak ia akan timbul sebagai pemimpin. Berbicara mengenai takdir, secara filosofis pandangan ini tergolong pada pandangan fasilitas atau determinitis. 2. Teori Sosial. Jika teori pertama di atas adalah teori yang ekstrim pada satu sisi, maka teori inipun merupakan ekstrim pada sisi lainnya. Inti aliran teori sosial ini ialah bahwa “Leader are made and not born” (pemimpin itu dibuat atau dididik bukannya kodrati). Jadi teori ini merupakan kebalikan inti teori genetika. Para penganut teori ini mengetengahkan pendapat yang mengatakan bahwa setiap orang bisa menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup. 3. Teori Ekologis. Kedua teori yang ekstrim di atas tidak seluruhnya mengandung kebenaran, maka sebagai reaksi terhadap kedua teori tersebut timbullah aliran teori ketiga. Teori yang disebut teori ekologis ini pada intinya berarti bahwa seseorang hanya akan berhasil menjadi pemimpin yang baik apabila ia telah memiliki bakat kepemimpinan. Bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pengalaman yang memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut. Teori ini menggabungkan segi-segi positif dari kedua teori terdahulu sehingga dapat dikatakan merupakan teori yang paling mendekati kebenaran. Namun demikian, penelitian yang jauh lebih mendalam masih diperlukan untuk dapat mengatakan secara pasti apa saja faktor yang menyebabkan timbulnya sosok pemimpin yang baik. Selain pendapat-pendapat yang menyatakan tentang timbulnya gaya kepemimpinan tersebut, Hersey dan Blanchard (1992) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan pada dasarnya merupakan perwujudan dari tiga komponen, yaitu pemimpin itu sendiri, bawahan, serta situasi di mana proses kepemimpinan tersebut diwujudkan. Bertolak dari pemikiran tersebut, Hersey dan Blanchard (1992) mengajukan proposisi bahwa gaya kepemimpinan (k) merupakan suatu fungsi dari pimpinan (p), bawahan (b) dan situasi tertentu (s)., yang dapat dinotasikan sebagai: k= f (p, b, s). Menurut Hersey dan Blanchard, pimpinan (p) adalah seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain atau kelompok untuk melakukan unjuk kerja maksimum yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan organisasi. Organisasi akan berjalan dengan baik jika pimpinan mempunyai kecakapan dalam bidangnya, dan setiap pimpinan mempunyai keterampilan yang berbeda, seperti keterampilan teknis, manusiawi dan konseptual. Sedangkan bawahan adalah seorang atau sekelompok orang yang merupakan anggota dari suatu perkumpulan atau pengikut yang setiap saat siap melaksanakan perintah atau tugas yang telah disepakati bersama guna mencapai tujuan. Dalam suatu organisasi, bawahan mempunyai peranan yang sangat strategis, karena sukses tidaknya seseorang pimpinan bergantung kepada para pengikutnya ini. Oleh sebab itu, seorang pemimpinan dituntut untuk memilih bawahan dengan secermat mungkin. Adapun situasi (s) menurut Hersey dan Blanchard adalah suatu keadaan yang kondusif, di mana seorang pimpinan berusaha pada saat-saat tertentu mempengaruhi perilaku orang lain agar dapat mengikuti kehendaknya dalam rangka mencapai tujuan bersama. Dalam satu situasi misalnya, tindakan pimpinan pada beberapa tahun yang lalu tentunya tidak sama dengan yang dilakukan pada saat sekarang, karena memang situasinya telah berlainan. Dengan demikian, ketiga unsur yang mempengaruhi gaya kepemimpinan tersebut, yaitu pimpinan, bawahan dan situasi merupakan unsur yang saling terkait satu dengan lainnya, dan akan menentukan tingkat keberhasilan kepemimpinan. b. Tipologi Kepemimpinan Dalam praktiknya, dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut berkembang beberapa tipe kepemimpinan; di antaranya adalah sebagian berikut (Siagian,1997). 1. Tipe Otokratis. Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut: Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi; Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi; Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata; Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat; Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya; Dalam tindakan pengge-rakkannya sering memperguna-kan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum. 2. Tipe Militeristis. Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan; Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya; Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan; Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan; Sukar menerima kritikan dari bawahannya; Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan. 3. Tipe Paternalistis. Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut: menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa; bersikap terlalu melindungi (overly protective); jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan; jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif; jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya; dan sering bersikap maha tahu. 4. Tipe Karismatik Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya yang sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. Gandhi bukanlah seorang yang kaya, Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat, John F Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Mengenai profil, Gandhi tidak dapat digolongkan sebagai orang yang ‘ganteng”. 5. Tipe Demokratis. Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut : dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia; selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya; senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya; selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan; ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain; selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya; dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin. Secara implisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin tipe demokratis bukanlah hal yang mudah. Namun, karena pemimpin yang demikian adalah yang paling ideal, alangkah baiknya jika semua pemimpin berusaha menjadi seorang pemimpin yang demokratis. c. Model Kepemimpinan. Model kepemimpinan didasarkan pada pendekatan yang mengacu kepada hakikat kepemimpinan yang berlandaskan pada perilaku dan keterampilan seseorang yang berbaur kemudian membentuk gaya kepemimpinan yang berbeda. Beberapa model yang menganut pendekatan ini, di antaranya adalah sebagai berikut: 1. Model Kepemimpinan Kontinum (Otokratis-Demokratis). Tannenbaun dan Schmidt dalam Hersey dan Blanchard (1994) berpendapat bahwa pemimpin mempengaruhi pengikutnya melalui beberapa cara, yaitu dari cara yang menonjolkan sisi ekstrim yang disebut dengan perilaku otokratis sampai dengan cara yang menonjolkan sisi ekstrim lainnya yang disebut dengan perilaku demokratis. Perilaku otokratis, pada umumnya dinilai bersifat negatif, di mana sumber kuasa atau wewenang berasal dari adanya pengaruh pimpinan. Jadi otoritas berada di tangan pemimpin, karena pemusatan kekuatan dan pengambilan keputusan ada pada dirinya serta memegang tanggung jawab penuh, sedangkan bawahannya dipengaruhi melalui ancaman dan hukuman. Selain bersifat negatif, gaya kepemimpinan ini mempunyai manfaat antara lain, pengambilan keputusan cepat, dapat memberikan kepuasan pada pimpinan serta memberikan rasa aman dan keteraturan bagi bawahan. Selain itu, orientasi utama dari perilaku otokratis ini adalah pada tugas. Perilaku demokratis; perilaku kepemimpinan ini memperoleh sumber kuasa atau wewenang yang berawal dari bawahan. Hal ini terjadi jika bawahan dimotivasi dengan tepat dan pimpinan dalam melaksanakan kepemimpinannya berusaha mengutamakan kerjasama dan team work untuk mencapai tujuan, di mana si pemimpin senang menerima saran, pendapat dan bahkan kritik dari bawahannya. Kebijakan di sini terbuka bagi diskusi dan keputusan kelompok. Namun, kenyataannya perilaku kepemimpinan ini tidak mengacu pada dua model perilaku kepemimpinan yang ekstrim di atas, melainkan memiliki kecenderungan yang terdapat di antara dua sisi ekstrim tersebut. Tannenbaun dan Schmidt dalam Hersey dan Blanchard (1994) mengelompokkannya menjadi tujuh kecenderungan perilaku kepemimpinan. Ketujuh perilaku inipun tidak mutlak melainkan akan memiliki kecenderungan perilaku kepemimpinan mengikuti suatu garis kontinum dari sisi otokratis yang berorientasi pada tugas sampai dengan sisi demokratis yang berorientasi pada hubungan. 2. Model Kepemimpinan Ohio. Dalam penelitiannya, Universitas Ohio melahirkan teori dua faktor tentang gaya kepemimpinan yaitu struktur inisiasi dan konsiderasi (Hersey dan Blanchard, 1992). Struktur inisiasi mengacu kepada perilaku pemimpin dalam menggambarkan hubungan antara dirinya dengan anggota kelompok kerja dalam upaya membentuk pola organisasi, saluran komunikasi, dan metode atau prosedur yang ditetapkan dengan baik. Adapun konsiderasi mengacu kepada perilaku yang menunjukkan persahabatan, kepercayaan timbal-balik, rasa hormat dan kehangatan dalam hubungan antara pemimpin dengan anggota stafnya (bawahan). Adapun contoh dari faktor konsiderasi misalnya pemimpin menyediakan waktu untuk menyimak anggota kelompok, pemimpin mau mengadakan perubahan, dan pemimpin bersikap bersahabat dan dapat didekati. Sedangkan contoh untuk faktor struktur inisiasi misalnya pemimpin menugaskan tugas tertentu kepada anggota kelompok, pemimpin meminta anggota kelompok mematuhi tata tertib dan peraturan standar, dan pemimpin memberitahu anggota kelompok tentang hal-hal yang diharapkan dari mereka. Kedua faktor dalam model kepemimpinan Ohio tersebut dalam implementasinya mengacu pada empat kuadran, yaitu : (a) model kepemimpinan yang rendah konsiderasi maupun struktur inisiasinya, (b) model kepemimpinan yang tinggi konsiderasi maupun struktur inisiasinya, (c) model kepemimpinan yang tinggi konsiderasinya tetapi rendah struktur inisiasinya, dan (d) model kepemimpinan yang rendah konsiderasinya tetapi tinggi struktur inisiasinya. 3. Model Kepemimpinan Likert (Likert’s Management System). Likert dalam Stoner (1978) menyatakan bahwa dalam model kepemimpinan dapat dikelompokkan dalam empat sistem, yaitu sistem otoriter, otoriter yang bijaksana, konsultatif, dan partisipatif. Penjelasan dari keempat sistem tersebut adalah seperti yang disajikan pada bagian berikut ini. (a) Sistem Otoriter (Sangat Otokratis). Dalam sistem ini, pimpinan menentukan semua keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan, dan memerintahkan semua bawahan untuk menjalankannya. Untuk itu, pemimpin juga menentukan standar pekerjaan yang harus dijalankan oleh bawahan. Dalam menjalankan pekerjaannya, pimpinan cenderung menerapkan ancaman dan hukuman. Oleh karena itu, hubungan antara pimpinan dan bawahan dalam sistem adalah saling curiga satu dengan lainnya. (b) Sistem Otoriter Bijak (Otokratis Paternalistik). Perbedaan dengan sistem sebelumnya adalah terletak kepada adanya fleksibilitas pimpinan dalam menetapkan standar yang ditandai dengan meminta pendapat kepada bawahan. Selain itu, pimpinan dalam sistem ini juga sering memberikan pujian dan bahkan hadiah ketika bawahan berhasil bekerja dengan baik. Namun demikian, pada sistem inipun, sikap pemimpin yang selalu memerintah tetap dominan. (c) Sistem Konsultatif. Kondisi lingkungan kerja pada sistem ini dicirikan adanya pola komunikasi dua arah antara pemimpin dan bawahan. Pemimpin dalam menerapkan kepemimpinannya cenderung lebih bersifat menudukung. Selain itu sistem kepemimpinan ini juga tergambar pada pola penetapan target atau sasaran organisasi yang cenderung bersifat konsultatif dan memungkinkan diberikannya wewenang pada bawahan pada tingkatan tertentu. (d) Sistem Partisipatif. Pada sistem ini, pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang lebih menekankan pada kerja kelompok sampai di tingkat bawah. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemimpin biasanya menunjukkan keterbukaan dan memberikan kepercayaan yang tinggi pada bawahan. Sehingga dalam proses pengambilan keputusan dan penentuan target pemimpin selalu melibatkan bawahan. Dalam sistem inipun, pola komunikasi yang terjadi adalah pola dua arah dengan memberikan kebebasan kepada bawahan untuk mengungkapkan seluruh ide ataupun permasalahannya yang terkait dengan pelaksanaan pekerjaan. Dengan demikian, model kepemimpinan yang disampaikan oleh Likert ini pada dasarnya merupakan pengembangan dari model-model yang dikembangkan oleh Universitasi Ohio, yaitu dari sudut pandang struktur inisasi dan konsiderasi. 4. Model Kepemimpinan Managerial Grid. Jika dalam model Ohio, kepemimpinan ditinjau dari sisi struktur inisiasi dan konsideransinya, maka dalam model manajerial grid yang disampaikan oleh Blake dan Mouton dalam Robbins (1996) memperkenalkan model kepemimpinan yang ditinjau dari perhatiannya terhadap tugas dan perhatian pada orang. Kedua sisi tinjauan model kepemimpinan ini kemudian diformulasikan dalam tingkatan-tingkatan, yaitu antara 0 sampai dengan 9. Dalam pemikiran model managerial grid adalah seorang pemimpin selain harus lebih memikirkan mengenai tugas-tugas yang akan dicapainya juga dituntut untuk memiliki orientasi yang baik terhadap hubungan kerja dengan manusia sebagai bawahannya. Artinya bahwa seorang pemimpin tidak dapat hanya memikirkan pencapaian tugas saja tanpa memperhitungkan faktor hubungan dengan bawahannya, sehingga seorang pemimpin dalam mengambil suatu sikap terhadap tugas, kebijakan-kebijakan yang harus diambil, proses dan prosedur penyelesaian tugas, maka saat itu juga pemimpin harus memperhatikan pola hubungan dengan staf atau bawahannya secara baik. Menurut Blake dan Mouton ini, kepemimpinan dapat dikelompokkan menjadi empat kecenderungan yang ekstrim dan satu kecenderungan yang terletak di tengah-tengah keempat gaya ekstrim tersebut. Gaya kepemimpinan tersebut adalah: (a) Grid 1.1 disebut Impoverished leadership (Model Kepemimpinan yang Tandus), dalam kepemimpinan ini si pemimpin selalu menghidar dari segala bentuk tanggung jawab dan perhatian terhadap bawahannya. (b) Grid 9.9 disebut Team leadership (Model Kepemimpinan Tim), pimpinan menaruh perhatian besar terhadap hasil maupun hubungan kerja, sehingga mendorong bawahan untuk berfikir dan bekerja (bertugas) serta terciptanya hubungan yang serasi antara pimpinan dan bawahan. (c) Grid 1.9 disebut Country Club leadership (Model Kepemimpinan Perkumpulan), pimpinan lebih mementingkan hubungan kerja atau kepentingan bawahan, sehingga hasil/tugas kurang diperhatikan. (d) Grid 9.1 disebut Task leadership (Model Kepemimpinan Tugas), kepemimpinan ini bersifat otoriter karena sangat mementingkan tugas/hasil dan bawahan dianggap tidak penting karena sewaktu-waktu dapat diganti. (e) Grid 5.5 disebut Middle of the road (Model Kepemimpinan Jalan Tengah), di mana si pemimpin cukup memperhatikan dan mempertahankan serta menyeimbangkan antara moral bawahan dengan keharusan penyelesaian pekerjaan pada tingkat yang memuaskan, di mana hubungan antara pimpinan dan bawahan bersifat kebapakan. Berdasakan uraian di atas, pada dasarnya model kepemimpinan manajerial grid ini relatif lebih rinci dalam menggambarkan kecenderungan kepemimpinan. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwasanya model ini merupakan pandangan yang berawal dari pemikiran yang relatif sama dengan model sebelumnya, yaitu seberapa otokratis dan demokratisnya kepemimpinan dari sudut pandang perhatiannya pada orang dan tugas. 5. Model Kepemimpinan Kontingensi. Model kepemimpinan kontingensi dikembang-kan oleh Fielder. Fielder dalam Gibson, Ivancevich dan Donnelly (1995) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan yang paling sesuai bagi sebuah organisasi bergantung pada situasi di mana pemimpin bekerja. Menurut model kepemimpinan ini, terdapat tiga variabel utama yang cenderung menentukan apakah situasi menguntukang bagi pemimpin atau tidak. Ketiga variabel utama tersebut adalah : hubungan pribadi pemimpin dengan para anggota kelompok (hubungan pemimpin-anggota); kadar struktur tugas yang ditugaskan kepada kelompok untuk dilaksanakan (struktur tugas); dan kekuasaan dan kewenangan posisi yang dimiliki (kuasa posisi). Berdasar ketiga variabel utama tersebut, Fiedler menyimpulkan bahwa : para pemimpin yang berorientasi pada tugas cenderung berprestasi terbaik dalam situasi kelompok yang sangat menguntungkan maupun tidak menguntungkan sekalipun; para pemimpin yang berorientasi pada hubungan cenderung berprestasi terbaik dalam situasi-situasi yang cukup menguntungkan. Dari kesimpulan model kepemimpinan tersebut, pendapat Fiedler cenderung kembali pada konsep kontinum perilaku pemimpin. Namun perbedaannya di sini adalah bahwa situasi yang cenderung menguntungkan dan yang cenderung tidak menguntungkan dipisahkan dalam dua kontinum yang berbeda. 6. Model Kepemimpinan Tiga Dimensi. Model kepemimpinan ini dikembangkan oleh Redin. Model tiga dimensi ini, pada dasarnya merupakan pengembangan dari model yang dikembangkan oleh Universitas Ohio dan model Managerial Grid. Perbedaan utama dari dua model ini adalah adanya penambahan satu dimensi pada model tiga dimensi, yaitu dimensi efektivitas, sedangkan dua dimensi lainnya yaitu dimensi perilaku hubungan dan dimensi perilaku tugas tetap sama. Intisari dari model ini terletak pada pemikiran bahwa kepemimpinan dengan kombinasi perilaku hubungan dan perilaku tugas dapat saja sama, namun hal tersebut tidak menjamin memiliki efektivitas yang sama pula. Hal ini terjadi karena perbedaan kondisi lingkungan yang terjadi dan dihadapi oleh sosok pemimpin dengan kombinasi perilaku hubungan dan tugas yang sama tersebut memiliki perbedaan. Secara umum, dimensi efektivitas lingkungan terdiri dari dua bagian, yaitu dimensi lingkungan yang tidak efektif dan efektif. Masing-masing bagian dimensi lingkungan ini memiliki skala yang sama 1 sampai dengan 4, dimana untuk lingkungan tidak efektif skalanya bertanda negatif dan untuk lingkungan yang efektif skalanya bertanda positif. d. Teori Kepemimpinan. Salah satu prestasi yang cukup menonjol dari sosiologi kepemimpinan modern adalah perkembangan dari teori peran (role theory). Dikemukakan, setiap anggota suatu masyarakat menempati status posisi tertentu, demikian juga halnya dengan individu diharapkan memainkan peran tertentu. Dengan demikian kepemimpinan dapat dipandang sebagai suatu aspek dalam diferensiasi peran. Ini berarti bahwa kepemimpinan dapat dikonsepsikan sebagai suatu interaksi antara individu dengan anggota kelompoknya. Menurut kaidah, para pemimpin atau manajer adalah manusia-manusia super lebih daripada yang lain, kuat, gigih, dan tahu segala sesuatu (White, Hudgson & Crainer, 1997). Para pemimpin juga merupakan manusia-manusia yang jumlahnya sedikit, namun perannya dalam organisasi merupakan penentu keberhasilan dan suksesnya tujuan yang hendak dicapai. Berangkat dari ide-ide pemikiran, visi para pemimpin ditentukan arah perjalanan suatu organisasi. Walaupun bukan satu-satunya ukuran keberhasilan dari tingkat kinerja organisasi, akan tetapi kenyataan membuktikan tanpa kehadiran pemimpin, suatu organisasi akan bersifat statis dan cenderung berjalan tanpa arah. Dalam sejarah peradaban manusia, dikonstatir gerak hidup dan dinamika organisasi sedikit banyak tergantung pada sekelompok kecil manusia penyelenggara organisasi. Bahkan dapat dikatakan kemajuan umat manusia datangnya dari sejumlah kecil orang-orang istimewa yang tampil kedepan. Orang-orang ini adalah perintis, pelopor, ahli-ahli pikir, pencipta dan ahli organisasi. Sekelompok orang-orang istimewa inilah yang disebut pemimpin. Oleh karenanya kepemimpinan seorang merupakan kunci dari manajemen. Para pemimpin dalam menjalankan tugasnya tidak hanya bertanggungjawab kepada atasannya, pemilik, dan tercapainya tujuan organisasi, mereka juga bertanggungjawab terhadap masalah-masalah internal organisasi termasuk didalamnya tanggungjawab terhadap pengembangan dan pembinaan sumber daya manusia. Secara eksternal, para pemimpin memiliki tanggungjawab sosial kemasyarakatan atau akuntabilitas publik. Dari sisi teori kepemimpinan, pada dasarnya teori-teori kepemimpinan mencoba menerangkan dua hal yaitu, faktor-faktor yang terlibat dalam pemunculan kepemimpinan dan sifat dasar dari kepemimpinan. Penelitian tentang dua masalah ini lebih memuaskan daripada teorinya itu sendiri. Namun bagaimanapun teori-teori kepemimpinan cukup menarik, karena teori banyak membantu dalam mendefinisikan dan menentukan masalah-masalah penelitian. Dari penelusuran literatur tentang kepemimpinan, teori kepemimpinan banyak dipengaruhi oleh penelitian Galton (1879) tentang latar belakang dari orang-orang terkemuka yang mencoba menerangkan kepemimpinan berdasarkan warisan. Beberapa penelitian lanjutan, mengemukakan individu-individu dalam setiap masyarakat memiliki tingkatan yang berbeda dalam inteligensi, energi, dan kekuatan moral serta mereka selalu dipimpin oleh individu yang benar-benar superior. Perkembangan selanjutnya, beberapa ahli teori mengembangkan pandangan kemunculan pemimpin besar adalah hasil dari waktu, tempat dan situasi sesaat. Dua hipotesis yang dikembangkan tentang kepemimpinan, yaitu ; (1) kualitas pemimpin dan kepemimpinan yang tergantung kepada situasi kelompok, dan (2), kualitas individu dalam mengatasi situasi sesaat merupakan hasil kepemimpinan terdahulu yang berhasil dalam mengatasi situasi yang sama (Hocking & Boggardus, 1994). Dua teori yaitu Teori Orang-Orang Terkemuka dan Teori Situasional, berusaha menerangkan kepemimpinan sebagai efek dari kekuatan tunggal. Efek interaktif antara faktor individu dengan faktor situasi tampaknya kurang mendapat perhatian. Untuk itu, penelitian tentang kepemimpinan harus juga termasuk ; (1) sifat-sifat efektif, intelektual dan tindakan individu, dan (2) kondisi khusus individu didalam pelaksanaannya. Pendapat lain mengemukakan, untuk mengerti kepemimpinan perhatian harus diarahkan kepada (1) sifat dan motif pemimpin sebagai manusia biasa, (2) membayangkan bahwa terdapat sekelompok orang yang dia pimpin dan motifnya mengikuti dia, (3) penampilan peran harus dimainkan sebagai pemimpin, dan (4) kaitan kelembagaan melibatkan dia dan pengikutnya (Hocking & Boggardus, 1994). Beberapa pendapat tersebut, apabila diperhatikan dapat dikategorikan sebagai teori kepemimpinan dengan sudut pandang "Personal-Situasional". Hal ini disebabkan, pandangannya tidak hanya pada masalah situasi yang ada, tetapi juga dilihat interaksi antar individu maupun antar pimpinan dengan kelompoknya. Teori kepemimpinan yang dikembangkan mengikuti tiga teori diatas, adalah Teori Interaksi Harapan. Teori ini mengembangkan tentang peran kepemimpinan dengan menggunakan tiga variabel dasar yaitu; tindakan, interaksi, dan sentimen. Asumsinya, bahwa peningkatan frekuensi interaksi dan partisipasi sangat berkaitan dengan peningkatan sentimen atau perasaan senang dan kejelasan dari norma kelompok. Semakin tinggi kedudukan individu dalam kelompok, maka aktivitasnya semakin sesuai dengan norma kelompok, interaksinya semakin meluas, dan banyak anggota kelompok yang berhasil diajak berinteraksi. Pada tahun 1957 Stogdill mengembangkan Teori Harapan-Reinforcement untuk mencapai peran. Dikemukakan, interaksi antar anggota dalam pelaksanaan tugas akan lebih menguatkan harapan untuk tetap berinteraksi. Jadi, peran individu ditentukan oleh harapan bersama yang dikaitkan dengan penampilan dan interaksi yang dilakukan. Kemudian dikemukakan, inti kepemimpinan dapat dilihat dari usaha anggota untuk merubah motivasi anggota lain agar perilakunya ikut berubah. Motivasi dirubah dengan melalui perubahan harapan tentang hadiah dan hukuman. Perubahan tingkahlaku anggota kelompok yang terjadi, dimaksudkan untuk mendapatkan hadiah atas kinerjanya. Dengan demikian, nilai seorang pemimpin atau manajer tergantung dari kemampuannya menciptakan harapan akan pujian atau hadiah. Atas dasar teori diatas, House pada tahun 1970 mengembangkan Teori Kepemimpinan yang Motivasional. Fungsi motivasi menurut teori ini untuk meningkatkan asosiasi antara cara-cara tertentu yang bernilai positif dalam mencapai tujuan dengan tingkahlaku yang diharapkan dan meningkatkan penghargaan bawahan akan pekerjaan yang mengarah pada tujuan. Pada tahun yang sama Fiedler mengembangkan Teori Kepemimpinan yang Efektif. Dikemukakan, efektivitas pola tingkahlaku pemimpin tergantung dari hasil yang ditentukan oleh situasi tertentu. Pemimpin yang memiliki orientasi kerja cenderung lebih efektif dalam berbagai situasi. Semakin sosiabel interaksi kesesuaian pemimpin, tingkat efektivitas kepemim-pinan makin tinggi. Teori kepemimpinan berikutnya adalah Teori Humanistik dengan para pelopor Argryris, Blake dan Mouton, Rensis Likert, dan Douglas McGregor. Teori ini secara umum berpendapat, secara alamiah manusia merupakan "motivated organism". Organisasi memiliki struktur dan sistem kontrol tertentu. Fungsi dari kepemimpinan adalah memodifikasi organisasi agar individu bebas untuk merealisasikan potensi motivasinya didalam memenuhi kebutuhannya dan pada waktu yang sama sejalan dengan arah tujuan kelompok. Apabila dicermati, didalam Teori Humanistik, terdapat tiga variabel pokok, yaitu; (1), kepemimpinan yang sesuai dan memperhatikan hati nurani anggota dengan segenap harapan, kebutuhan, dan kemampuan-nya, (2), organisasi yang disusun dengan baik agar tetap relevan dengan kepentingan anggota disamping kepentingan organisasi secara keseluruhan, dan (3), interaksi yang akrab dan harmonis antara pimpinan dengan anggota untuk menggalang persatuan dan kesatuan serta hidup damai bersama-sama. Blanchard, Zigarmi, dan Drea bahkan menyatakan, kepemimpinan bukanlah sesuatu yang Anda lakukan terhadap orang lain, melainkan sesuatu yang Anda lakukan bersama dengan orang lain (Blanchard & Zigarmi, 2001). Teori kepemimpinan lain, yang perlu dikemukakan adalah Teori Perilaku Kepemimpinan. Teori ini menekankan pada apa yang dilakukan oleh seorang pemimpin. Dikemukakan, terdapat perilaku yang membedakan pemimpin dari yang bukan pemimpin. Jika suatu penelitian berhasil menemukan perilaku khas yang menunjukkan keberhasilan seorang pemimpin, maka implikasinya ialah seseorang pada dasarnya dapat dididik dan dilatih untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif. Teori ini sekaligus menjawab pendapat, pemimpin itu ada bukan hanya dilahirkan untuk menjadi pemimpin tetapi juga dapat muncul sebagai hasil dari suatu proses belajar. Selain teori-teori kepemimpinan yang telah dikemukakan, dalam perkembangan yang akhir-akhir ini mendapat perhatian para pakar maupun praktisi adalah dua pola dasar interaksi antara pemimpin dan pengikut yaitu pola kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan transaksional. Kedua pola kepemimpinan tersebut, adalah berdasarkan pendapat seorang ilmuwan di bidang politik yang bernama James McGregor Burns (1978) dalam bukunya yang berjudul “Leadership”. Selanjutnya Bass (1985) meneliti dan mengkaji lebih dalam mengenai kedua pola kepemimpinan dan kemudian mengumumkan secara resmi sebagai teori, lengkap dengan model dan pengukurannya. 3. Kompetensi Kepemimpinan Suatu persyaratan penting bagi efektivitas atau kesuksesan pemimpin (kepemimpinan) dan manajer (manajemen) dalam mengemban peran, tugas, fungsi, atau pun tanggung jawabnya masing-masing adalah kompetensi. Konsep mengenai kompetensi untuk pertamakalinya dipopulerkan oleh Boyatzis (1982) yang didefinisikan kompetensi sebagai “kemampuan yang dimiliki seseorang yang nampak pada sikapnya yang sesuai dengan kebutuhan kerja dalam parameter lingkungan organisasi dan memberikan hasil yang diinginkan”. Secara historis perkembangan kompetensi dapat dilihat dari beberapa definisi kompetensi terpilih dari waktu ke waktu yang dikembangkan oleh Burgoyne (1988), Woodruffe (1990), Spencer dan kawan-kawan (1990), Furnham (1990) dan Murphy (1993). Menurut Rotwell, kompetensi adalah an area of knowledge or skill that is critical for production ke outputs. Lebih lanjut Rotwell menuliskan bahwa competencies area internal capabilities that people brings to their job; capabilities which may be expressed in a broad, even infinite array of on the job behaviour. Spencer (1993) berpendapat, kompetensi adalah “… an undderlying characteristicof an individual that is causally related to criterion referenced effective and/or superior performance in ajob or situation”. Senada dengan itu Zwell (2000) berpendapat “Competencies can be defined as the enduring traits and characteristics that determine performance. Examples of competencies are initiative, influence, teamwork, innovation, and strategic thinking”. Beberapa pandangan di atas mengindikasikan bahwa kompetensi merupakan karakteristik atau kepribadian (traits) individual yang bersifat permanen yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang. Selain traits dari Spencer dan Zwell tersebut, terdapat karakteristik kompetensi lainnya, yatu berupa motives, self koncept (Spencer, 1993), knowledge, dan skill ( Spencer, 1993; Rothwell and Kazanas, 1993). Menurut review Asropi (2002), berbagai kompetensi tersebut mengandung makna sebagai berikut : Traits merunjuk pada ciri bawaan yang bersifat fisik dan tanggapan yang konsisten terhadap berbagai situasi atau informasi. Motives adalah sesuatu yang selalu dipikirkan atau diinginkan seseorang, yang dapat mengarahkan, mendorong, atau menyebabkan orang melakukan suatu tindakan. Motivasi dapat mengarahkan seseorang untuk menetapkan tindakan-tindakan yang memastikan dirinya mencapai tujuan yang diharapkan (Amstrong, 1990). Self concept adalah sikap, nilai, atau citra yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri; yang memberikan keyakinan pada seseorang siapa dirinya. Knowledge adalah informasi yang dimilki seseorang dalam suatu bidang tertentu. Skill adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas tertentu, baik mental atau pun fisik. Berbeda dengan keempat karakteristik kompetensi lainnya yang bersifat intention dalam diri individu, skill bersifat action. Menurut Spencer (1993), skill menjelma sebagai perilaku yang di dalamnya terdapat motives, traits, self concept, dan knowledge. Dalam pada itu, menurut Spencer (1993) dan Kazanas (1993) terdapat kompetensi kepemimpinan secara umum yang dapat berlaku atau dipilah menurut jenjang, fungsi, atau bidang, yaitu kompetensi berupa : result orientation, influence, initiative, flexibility, concern for quality, technical expertise, analytical thinking, conceptual thinking, team work, service orientation, interpersonal awareness, relationship building, cross cultural sensitivity, strategic thinking, entrepreneurial orientation, building organizational commitment, dan empowering others, develiping others. Kompetensi-kompetensi tersebut pada umumnya merupakan kompetensi jabatan manajerial yang diperlukan hampir dalam semua posisi manajerial. Ke 18 kompetensi yang diidentifikasi Spencer dan Kazanas tersebut dapat diturunkan ke dalam jenjang kepemimpinan berikut : pimpinan puncak, pimpinan menengah, dan pimpinan pengendali operasi teknis (supervisor). Kompetensi pada pimpinan puncak adalah result (achievement) orientation, relationship building, initiative, influence, strategic thinking, building organizational commitment, entrepreneurial orientation, empowering others, developing others, dan felexibilty. Adapun kompetensi pada tingkat pimpinan menengah lebih berfokus pada influence, result (achievement) orientation, team work, analitycal thinking, initiative, empowering others, developing others, conceptual thingking, relationship building, service orientation, interpersomal awareness, cross cultural sensitivity, dan technical expertise. Sedangkan pada tingkatan supervisor kompetensi kepemimpinannya lebih befokus pada technical expertise, developing others, empowering others, interpersonal understanding, service orientation, building organzational commitment, concern for order, influence, felexibilty, relatiuonship building, result (achievement) orientation, team work, dan cross cultural sensitivity. Dalam hubungan ini Kouzes dan Posner 1995) meyakini bahwa suatu kinerja yang memiliki kualitas unggul berupa barang atau pun jasa, hanya dapat dihasilkan oleh para pemimpin yang memiliki kualitas prima. Dikemukakan, kualitas kepemimpinan manajerial adalah suatu cara hidup yang dihasilkan dari "mutu pribadi total" ditambah "kendali mutu total" ditambah "mutu kepemimpinan". Berdasarkan penelitiannya, ditemukan bahwa terdapat 5 (lima) praktek mendasar pemimpin yang memiliki kualitas kepemimpinan unggul, yaitu; (1) pemimpin yang menantang proses, (2) memberikan inspirasi wawasan bersama, (3) memungkinkan orang lain dapat bertindak dan berpartisipasi, (4) mampu menjadi penunjuk jalan, dan (5) memotivasi bawahan. Adapun ciri khas manajer yang dikagumi sehingga para bawahan bersedia mengikuti perilakunya adalah, apabila manajer memiliki sifat jujur, memandang masa depan, memberikan inspirasi, dan memiliki kecakapan teknikal maupun manajerial. Sedangkan Burwash (1996) dalam hubungannya dengan kualitas kepemimpinan manajer mengemukakan, kunci dari kualitas kepemimpinan yang unggul adalah kepemimpinan yang memiliki paling tidak 8 sampai dengan 9 dari 25 kualitas kepemimpinan yang terbaik. Dinyatakan, pemimpin yang berkualitas tidak puas dengan "status quo" dan memiliki keinginan untuk terus mengembangkan dirinya. Beberapa kriteria kualitas kepemimpinan manajer yang baik antara lain, memiliki komitmen organisasional yang kuat, visionary, disiplin diri yang tinggi, tidak melakukan kesalahan yang sama, antusias, berwawasan luas, kemampuan komunikasi yang tinggi, manajemen waktu, mampu menangani setiap tekanan, mampu sebagai pendidik atau guru bagi bawahannya, empati, berpikir positif, memiliki dasar spiritual yang kuat, dan selalu siap melayani. Dalam pada itu, Warren Bennis (1991) juga mengemukakan bahwa peran kepemimpinan adalah “empowering the collective effort of the organization toward meaningful goals” dengan indikator keberhasilan sebagai berikut : People feel important; Learning and competence are reinforced; People feel they part of the organization; dan Work is viewed as excisting, stimulating, and enjoyable. Sementara itu, Soetjipto Wirosardjono (1993) menandai kualifikasi kepemimpinan berikut, “kepemimpinan yang kita kehendaki adalah kepemimpinan yang secara sejati memancarkan wibawa, karena memiliki komitmen, kredibilitas, dan integritas”. Sebelum itu, Bennis bersama Burt Nanus (1985) mengidentifikasi bentuk kompetensi kepemimpinan berupa “the ability to manage” dalam empat hal : attention (= vision), meaning (= communication), trust (= emotional glue), and self (= commitment, willingness to take risk). Kemudian pada tahun 1997, keempat konsep tersebut diubah menjadi the new rules of leradership berupa (a) Provide direction and meaning, a sense of purpose; (b) Generate and sustain trust, creating authentic relationships; (c) Display a bias towards action, risk taking and curiosity; dan (d) Are purveyors of hope, optimism and a psychological resilience that expects success (lihat Karol Kennedy, 1998; p.32). Bagi Rossbeth Moss Kanter (1994), dalam menghadapi tantangan masa depan yang semakin terasa kompleks dan akan berkembang semakin dinamik, diperlukan kompetensi kepemimpinan berupa conception yang tepat, competency yang cukup, connection yang luas, dan confidence. Tokoh lainnya adalah Ken Shelton (ed, 1997) mengidentikasi kompetensi dalam nuansa lain., menurut hubungan pemimpin dan pengikut, dan jiwa kepemimpinan. Dalam hubungan pemimpin dan pengikut, ia menekankan bagaimana keduanya sebaiknya berinterkasi. Fenomena ini menurut Pace memerlukan kualitas kepemimpinan yang tidak mementingkan diri sendiri. Selain itu, menurut Carleff pemimpin dan pengikut merupak dua sisi dari proses yang sama. Dalam hubungan jiwa kepemimpinan, sejumlah pengamat memasuki wilayah “spiritual”. Rangkaian kualitas lain yang mewarnainya antara lain adalah hati, jiwa, dan moral. Bardwick menyatakan bahwa kepemimpinan bukanlah masalah intelektual atau pengenalan, melainkan masalah emosional. Sedangkan Bell berpikiran bahwa pembimbing yang benar tidak selamanya merupakan mahluk rasional. Mereka seringkali adalah pencari nyala api

Selasa, 18 Juni 2013

RPP tentang Memahami perkembanagan Islam di Indonesia

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Satuan Pendidikan : MAN Popongan Klaten Mata Pelajaran : Sejarah Kebudayaan Islam Kelas / Seemester : XII/I Pertemuan ke : 2 (kedua) Alokasi Waktu : 1 X 15 menit A. Standar Kompetensi Memahami perkembanagan Islam di Indonesia B. Kompetensi Dasar Menjelaskan perkembangan Islam di Indonesia C. Indicator Pembelajaran a. Siswa dapat menjelaskan proses masuknya Islam di Indonesia b. Siswa dapat menjelaskan proses penyebaran Islam di Indonesia D. Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi perkembangan Islam di Indonesia: a. Mampu mengetahui proses masuknya Islam di Indonesia. b. Mampu menjelaskan proses penyebaran Islam di Indonesia. E. Nilai Karakter Yang Dikembangkan Rasa ingin Tahu, bekerja keras, dan tanggungjawab. F. Materi Pembelajaran Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 atau ke-8 M yang bertepatan dengan abad ke-1 atau ke-2 H. Rute yang dilewati adalah jalur Utara dan Selatan. Jalur Utara, dengan rute :Arab (Mekah dan Madinah) meliputi ; Damaskus – Bagdad – Gujarat – Srilangka – Indonesia Jalur Selatan, dengan rute : Arab (Mekah dan Madinah) meliputi ; Yaman – Gujarat – Srilangka – Indonesia Daerah yang mula-mula menerima Agama Islam adalah Pantai Barat pulau Sumatera. Dari tempat itu, Islam kemudian menyebar ke seluruh Indonesia. Beberapa tempat penyebarannya adalah : a. Pariaman di Sumatera Barat b. Gresik dan Tuban di Jawa Timur c. Demak di Jawa Tengah d. Banten di Jawa Barat e. Palembang di Sumatera Selatan f. Banjar di Kalimantan Selatan g. Makassar di Sulawesi Selatan h. Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo di Maluku i. Sorong di Irian Jaya Penyebaran Islam di Indonesia yang berjalan secara damai tanpa menimbulkan kekerasan merupakan cerminan hakikat ajaran Islam yang menjadi rahmatan lil-alamin. Adapun penyebaran Islam yang berjalan damai tersebut menggunakan dua cara, yaitu : Perdagangan dan Perkawinan. G. Metode dan Strategi Metode/Strategi: Ceramah, diskusi,. H. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Dan Tahap Pembelajaran Perincian Kegiatan Nilai-nilai Karakter Waktu Pendahuluan 1. Guru membuka pembelajaran 2. Guru berdoa bersama-sama dengan siswa 3. Mengecek kehadiran siswa. Dan mendoakan bagi siswa yang sedang sakit. 4. Guru menanyakan sampai dimana pembahasan materi sebelumnya. 5. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran pada pertemuan ini. 6. Guru mengawali dengan pre-test kepada siswa. 3 menit Kegiatan Inti Elaborasi Eksplorasi Konfirmasi 1. Guru menguraikan materi pembelajaran 2. Guru memberikan kesempatan kepada siswa yang bertanya. 3. Guru memberi pertanyaan kepada siswa 4. Guru meminta siswa menjawab perorangan 5. Setelah selesai menjawab siswa disuruh berkelompok dua-dua (berpasangan) 6. Guru meminta salah satu kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya dan bandingkan dengan kelompok lain. 7. Guru memberikan umpan balik terhadap diskusi dikelas 8. Guru dan siswa bersama-sama menyempurnakan hasil diskusi Rasa ingin tahu Tanggung jawab Kerja keras Tanggungjawab 10 menit Penutup 1. Guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran 2. Refleksi; guru beserta siswa mengungkapkan kesan mengenai pentingnya mempelajari materi tersebut 3. Guru menginformasikan kepada siswa bahwa pertemuan berikutnya adalah…. 4. Guru beserta siswa berdoa dengan esensi agar diberi keberkahan ilmu. 2 menit I. Penilaian 1. Teknik Penilain a. Tes lisan 2. Bentuk instrument a. Tes lisan Indikator pencapaian Bentuk Instrument Soal menjelaskan proses penyebaran Islam di Indonesia Lisan 1. Bagaimana cara proses penyebaran agama Islam di Indonesia? Mengetahui proses masuknya Islam di Indonesia. Lisan 2. Bagaimana cara masuknya islam ke Indonesia? J. Sumber Belajar 1. Sumber belajar a. Buku SKI Jogjakarta, 4 Mei 2013 Mengetahui, Dosen Pembimbing Praktikum Dra. Siti Jauhariyah, M.Pd Muhammad Tasdik NIP. 19670827 199303 003 NIM.10411081 Lampiran 1. Materi Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 atau ke-8 M yang bertepatan dengan abad ke-1 atau ke-2 H. Rute yang dilewati adalah jalur Utara dan Selatan. Jalur Utara, dengan rute :Arab (Mekah dan Madinah) meliputi ; Damaskus – Bagdad – Gujarat – Srilangka – Indonesia Jalur Selatan, dengan rute : Arab (Mekah dan Madinah) meliputi ; Yaman – Gujarat – Srilangka – Indonesia Daerah yang mula-mula menerima Agama Islam adalah Pantai Barat pulau Sumatera. Dari tempat itu, Islam kemudian menyebar ke seluruh Indonesia. Beberapa tempat penyebarannya adalah : j. Pariaman di Sumatera Barat k. Gresik dan Tuban di Jawa Timur l. Demak di Jawa Tengah m. Banten di Jawa Barat n. Palembang di Sumatera Selatan o. Banjar di Kalimantan Selatan p. Makassar di Sulawesi Selatan q. Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo di Maluku r. Sorong di Irian Jaya Penyebaran Islam di Indonesia yang berjalan secara damai tanpa menimbulkan kekerasan merupakan cerminan hakikat ajaran Islam yang menjadi rahmatan lil-alamin. Proses penyebaran agama Islam di Indonesia dilakukan dengan banyak cara, diantaranya yaitu: 1. Melalui perdagangan Pada abad ke 7 M, bangsa indonesia kedatangan para pedagang Islam dari arab, persia, dan india. Hal ini yang menimbulkan hubungan antara dagng antara masyarakat indonesia dan para pedagang Islam. Disamping berdagang, sebagai seorang muslim juga mempunyai kewajiban berdakwah maka para pedagang islam juga menyampaikan dan mengajarkan agama dan kebudayaan Islam kepada prang lain termasuk masyarakat Indonesia. 2. Melalui perkawinan Para pedagang muslim melakukan aktivitas perdagangan dalam waktu yang cukup lama, banyak dari mereka tinggal dalam waktu yang cukup lama dalam suatu daerah. Hubungan komunikasi yang baik ini tidak jarang diteruskan dengan adanya perkawinan antara putri kaum pribumi dengan para pedagang muslim. 3. Politik Seorang raja tentu mempunyai kekusaan dan pengaruh besar dan memegang peran penting dalam proses Isalmisasi. Setelah raja dan rakyat memeluk agama Islam, maka kepentingan politik dilakukan dengan cara perluasan wilayah kerajaan, yang diikuti dengan penyebaran agama Islam. 4. Pendidikan Seluruh da’i , ulama, guru-guru agama, ataupun para kyai juga memegang peranan penting dalam penyebaran agama Islam da kebudayaan Islam. Mereka menyebarkan Islam melalui jalur pendidikan yaitu dengan mendirikan pondok-pondok pesantren. 5. Kesenian Penyebaran Agama Islam melalui kesenian dapat dilakukan dengan mengadakan pertunjukan seni gamelandan wayang. Cara-cara seperti ini dapat ditemukan di Yogyakarta, Solo, Cirebon dan lain-lainnya. 2. Evaluasi karakter siswa Nama Siswa Karakter Rasa ingin tahu Bekerja keras Tanggungjawab Bambang irawan Nur Mujiburrahman Lely Nur Hidayah S Ahmad Sri Murtanto Ahmad Nur Kholis Putri Darmawati Yuli Setia Budi Zakaria Ahmad Aziz AM Novi Widianti

studen government

STUDENT GOVERNTMEN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN POLITIK MAHASISWA I. Pendahuluan A. Latar Belakang Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) adalah suatu wadah untuk menjembatani atau memfasilitasi mahasiswa yang memiliki suatu problem dengan birokrat kampus dan sebagai suatu lembaga kepemerintahan mahasiswaan yang menaungi mahasiswa jurusan ataupun mahasiswa fakultasnya. Akhir-akhir ini mahasiswa menilai keberadaan Badan Eksekutif Mahasiwsa (BEM) bisa dikatakan mati atau tiada ada, karena kegiatan-kegiatan yang sudah direncanakan tidak semua mahasiswa tahu dan bisa berkecimpung dalam kegiatan yang di adakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa. Badan Eksekutif Mahasiswa yang termasuk dalam student government,itu memiliki beberapa tugas dan wewenang, akan tetapi pada akhir-akhir ini kurang begitu maksimal dalam menjalankan tugasnya karena kurang solidnya kepengurusan. Dengan adanya pemilihan umum mahasiswa diharapkan adanya perubahan dalam kepengurusan dan kinerja pengurus yang lebih baik dan lebih maksimal dalam menjalankan tugasnya. B. Student Government Student Government secara etimologi adalah kepemerintahan mahasiswa, sedangkan devinisi secara istilah memang tidak ada yang baku atau yang dapat digunakan sebagai standar umum. Dalam konteks UIN Suka, dapat diartikan sebagai suatu system kekuasaan yang diperoleh mahasiswa, dari mahasiswa melalui pemilihan umum dan atau mekanisme lain untuk memperjuangkan aspirasi mahasiswa pada umumnya. Lembaga kepemerintahan mahasiswaan atau student government juga sering dianalogikan sebagai miniature Negara dimana terdapat pemerintah dan raknya sekaligus serta diakui keberadaannya. Lembaga kepemerintahan mahasiswaan di lingkungan UIN Sunan Kalijaga berada dibawah payung Anggaran Dasar dan Rumah Tangga Keluarga Besar Mahasiswa (AD/ART KBM) UIN. Student Government dihasilkan secara langsung ataupun tidak langsung dari pagelaran akbar demokrasi kampus yang disebut pemilu mahasiswa (PEMILWA). Demokrasi kampus sangat diperlukan sebagai media pembelajaran politik mahasiswa. PEMILWA diatur dalam UU PEMILWA, sedangkan partai politik diatur dalam UU Partai Politik Mahasiswa.dari pagelaran ini diharapkan menghasilkan pemimpin yang akuntabel, representative, professional dan konsisten memperjuangkan aspirasi mahasiswa. Dalam konteks UIN Sunan Kalijaga, student governmet ini terpetakan ke dalam tiga lembaga yaitu: Eksekutif, Yudikatif dan Legislatif. Lembaga Eksekutif terdiri dari Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas/ Jurusan/Program Studi (BEM F/J/PS), Lembaga legislative (Senat Mahasiswa Fakultas/Universitas) dan Lembaga Yudikatif bernama Mahkamah Konstitusi Mahasiswa (MKM). DEMA sebagai lembaga eksekutif di tingkat universitas mempunyai kewenangan mengajukan RUU pad SEMA Universitas untuk mendapatkan persetujuan bersama. Tugas dari DEMA ialah: a. Melaksanakan dan menjunjung tinggi asa dan tujuan KBM UIN Sunan Kalijaga b. Melaksanakan segala ketetapan KMU c. Merencanakan dan melaksanakan program kerja d. Presiden menjadi penanggung jawab pelaksanaan siding umum KMU e. Presiden wajib menyampaikan laporan pada siding. Di sisi lain, DEMA adalah lembaga instruktif di wilayah politik mahasiswa terhadap BEM F,BEM J, BEM PS dan UKM. Lembaga ini dipimpin oleh seorang presiden mahasiswa hasil PEMILWA yang diusung partai politik mahasiswa. Adapun lembaga eksekutif di tingkatan fakultas, jurusan atau program studi (BEM F/BEM J/ BEM PS) tidak jauh berbeda dengan tugas dan wewenang DEMA, tinggal menyesuaikan di levelnya masing-masing. Lembaga legislative di tingkatan Universitas (SEMA-U) mempunyai kewenangan melakukan koordinasi dengan lembaga legislative ditingkatan fakultas dan merekomendasikandibentuk dan atau dibubarkannya sebuah UKM pada KMU. SEMA-U bertugas: a. Mengawasi Presiden mahasiswa dalam melaksanakan GBHK KBM UIN Sunan Kalijaga dan ketetapan KMU lainnya. b. Memperjuangkan hak-hak mahasiswa secara maksimal dan progresif c. Berkewajiban melaporkan kerja dalam siding paripurna d. Membuat ketetapan-ketetapan kelengkapan organisasi. Keanggotaan SEMA Universitas adalah para kandidat dari partai politik mahasiswa yang terpilih dalam PEMILWA berdasarkan perolehan suara partai dan tidak diperkenankan merangkap jabatan ketua dilingkungan KBM UIN Sunan Kalijaga. Lembaga Student government yang terahir adalah Mahkamah Konstitusi Mahasiswa sebagai lembaga yudikatif yang mempunyai peran sebagai penegak konstitusi dan keadilan sesuai dengan aturan AD/ART KBMU dan diatur tersendiri dalam UU tenang Mahkamah Konstitusi Mahasiswa. Lembaga ini beranggotakan 5 orang hakim konstitusi yang ditetapkan melalui keputusan presiden mahasiswa. Student government merukan ruang pembelajaran yang dialektis dan demokratis sebagai sarana aktualisasi potensi diri. Lembaga ini pada dasarnya dibentuk dengan harapan dapat menjadi penyambung aspirasi mahasiswa atau mediator mahasiswa dengan pihak birokrasi kampus untuk memperkuat bargaining position. C. Kondisi Jurusan Jurusan Pendidikan Agama Islam adalah jurusan yang mahasiswanya paling banyak kuotanya di kampus UIN Sunan Kalijaga, jurusan PAI sendiri adalah jurusan yang paling difaforitkan oleh calon mahasiswa, akan tetapi kebesaran jurusan PAI tidak didukung dengan adanya kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa yang selalu menjadi penyambung atau penengah mahasiswa dengan pihak birokrasi kampus. Ketidak tahuan mahasiwa tentang kepengurusan dan keberadaan BEM Jurusan agak sedikit memberi pengaruh terhadap eksistensi BEM itu sendir, ketidak tahuan itu bisa disebabkan karena kurangnya sosialisasi pengurus BEM dengan para Mahasiswa ataupun mahasiswa yang tidak peduli dengan yang namanya BEM, mahasiswa kebanyakan tidak mau ikut campur tentang adanya suatu kegiatan yang tidak mereka inginkan. Mahasiswa hanya ingin berkonsisten atau hanya ingi fokus terhadap perkuliahan saja. Dengan keadaan mahasiswa yang tidak perduli dengan yang namanya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) jurusan, maka disini akan selalu ada yang namanya ketidak stabilan program kerja Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Dalam suatu kegiatan seharusnya mahasiswa dengan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa harusnya saling mendukung agar kegiatannya bisa berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan. Penutup Badan Eksekutif Mahasiswa(BEM) yang pada dasarnya adalah suatu lembaga kepemerintahan mahasiswaan yang menaungi mahasiswa di jurusannya setidaknya melibatkan mahasiswa yang bersangkutan dengan kegiatan-kegiatan yang di rencanakan oleh pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Semoga kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa yang mendatang akan bila lebih optimal dalam melaksanakan kepengurusannya.

kombinasi rumus keyboard

sedikit sering pengetahuan tentang Kombinasi Rumus Keyboard Kombinasi Fungsi CTRL+N Membuat sebuah dokumen baru CTRL+O Membuka dokumen CTRL+W Menutup dokumen ALT+CTRL+S Memecah jendela dokumen ALT+SHIFT+C Mengembalikan dokumen setelah dipecah CTRL+S Menyimpan dokumen CTRL+B Membuat cetak tebal CTRL+I Membuat huruf miring CTRL+U Membuat huruf bergaris bawah CTRL+SHIFT+< Mengurangi ukuran huruf CTRL+SHIFT+> Memperbesar huruf CTRL+C Menyalin teks atau obyek terpilih CTRL+X Memotong teks atau obyek terpilih CTRL+V Menempelkan teks atau obyek CTRL+Z Membatalkan aksi sebelumnya CTRL+Y Menjalankan lagi aksi terakhir CTRL+F Mencari teks dan item-item khusus ALT+CTRL+Y Mengulangi pencarian (setelah menutup jendela Find and Replace) CTRL+H Mengganti teks, format spesifik, dan item khusus CTRL+G Menuju ke page, bookmark, footnote, tabel, comment, graphic, atau lokasi lain ALT+CTRL+HOME Melakukan penelusuran melalui sebuah dokumen ALT+CTRL+P Mengubah ke print layout view ALT+CTRL+O Mengubah outline view ALT+CTRL+N Mengubah normal view BACKSPACE Menghapus ke kiri satu karakter CTRL+BACKSPACE Menghapus ke kiri satu kata DELETE Menghapus ke kanan satu karakter CTRL+DELETE Menghapus ke kanan satu kata CTRL+SHIFT+F Mengubah font CTRL+SHIFT+P Mengubah ukuran font CTRL+] Menambah ukuran font per 1 point CTRL+[ Mengurangi ukuran font per 1 point CTRL+D Mengubah format karakter (perintah Font, menu Format) SHIFT+F3 Mengubah besar kecilnya huruf CTRL+SHIFT+A Memformat huruf menjadi besar semua (capital) CTRL+SHIFT+W Menggarisbawahi kata tanpa spasi CTRL+SHIFT+D Memberi garis bawah ganda pada teks CTRL+SHIFT+H Membuat teks yang tersembunyi CTRL+SHIFT+K Memformat huruf menjadi huruf besar tetapi berukuran kecil CTRL+EQUAL SIGN Membuat format subscript CTRL+SHIFT+PLUS SIGN Membuat format superscript CTRL+SPACEBAR Menghilangkan format karakter manual CTRL+SHIFT+Q Mengubah font menjadi simbol CTRL+SPACEBAR Menghilangkan format karakter manual CTRL+SHIFT+Q Mengubah font menjadi simbol

Kamis, 13 Juni 2013

managemen pembiayaan pendidikan

Nama :Muhammad Tasdik NIM :10411073 Mata Kuliah :Managemen Pendidikan Mangemen Pembiayaan Pendidikan Managemen pembiayaan pendidikan merupakan proses pengaturan dan pengelolaan biaya secara efektif dan efisien dalam usaha pembiayaan pendidikan. Biaya pendidikan merupakan komponen yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan, proses pendidikan tidak dapat berjalan tanpa ada dukungan dari pembiayaan pendidikan. Pembiayaan pendidikan adalah sebagai nilai rupiah dari seluruh sumber daya (input) yang digunakan untuk suatu kegiatan pendidikan. Pembiayaan pendidikan tidak hanya menyangkut analisa sumber, tetapi juga menggunakan dana secara efisien. Semakin efisien sistem pendidikan itu semakin kurang pula dana yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuannya dan lebih banyak yang dicapai dengan anggaran yang tersedia. Untuk terselenggaranya suatu pendidikan, diperlukan pembiayaan yang bersumber baik dari pemerintah, orang tua murid, masyarakat, maupun institusi-institusi lainnya seperti organisasi regional maupun internasional. Manajemen Pembiayaan dalam lembaga pendidikan berbeda dengan manajemen pembiayaan perusahaan yang berorientasi profit atau laba. Organisasi pendidikan dikategorikan sebagai organisasi publik yang nirlaba (non profit). Oleh karena itu, managemen pembiayaan memiliki keunikan sesuai dengan misi dan karakteristik pendidikan. Penerapan peraturan dan sistem manajemen pembiayaan yang baku dalam lembaga pendidikan tidak dapat disangkal lagi. Permasalahan yang terjadi didalam lembaga terkait dengan manajemen pembiayaan pendidikan diantaranya sumber dana yang terbatas, pembiayaan program yang serampangan, tidak mendukung visi, misi, dan kebijakan sebagaimana tertulis didalam rencana strategis lembaga pendidikan. Disatu sisi, lembaga pendidikan perlu dikelola dengan tata pamong yang baik (good governance), sehingga menjadikan lembaga pendidikan yang bersih dari berbagai malfungsi dan malpraktik pendidikan yang merugikan pendidikan. Dalam perencanaan pembiayaan, terlebih dahulu harus memahami jenis-jenis biaya dalam istilah pembiayaan. Jenis-jenis biaya tersebut yaitu: 1. Biaya langsung (direct cost) Merupakan biaya pendidikan yang diperoleh dan dibelanjakan oleh sekolah sebagai suatu lembaga meliputi biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan proses belajar mengajar, sarana belajar, biaya transportasi, gaji guru, baik yang dikeluarkan oleh pemerintah, orang tua, maupun siswa sendiri. 2. Biaya tidak langsung (indirect cost) Biaya tidak langsung merupakan keuntungan yang hilang (earning forgone) dalam bentuk biaya kesempatan yang hilang, yang dikorbankan oleh siswa selama belajar. Istilah lain yang berkenaan dengan dua sisi anggaran yakni penerimaan dan pengeluaran. Anggaran penerimaan merupakan pendapatan yang diperoleh rutin setian tahun oleh sekolah dari berbagai sumber resmi. Anggaran dasar pengeluaran merupakan jumlah uang yang dibelanjakan setiap akhir tahun untuk kepentingan pelaksanaan pendidikan di sekolah. Dalam mengukur biaya pendidikan ada yang dinamakan sebagai total cost dan unit cost. Total cost merupakan biaya pendidikan secara keseluruhan. Sedangkan unit cost adalah biaya satuan per peserta didik. Untuk menentukan biaya satuan terdapat dua pendekatan, yaitu pendekatan makro dan mikro. Pendekatan makro mendasarkan perhitungan pada keseluruhan jumlah pengeluaran pendidikan yang diterima dari berbagai sumber dana kemudian dibagi jumlah murid. Sedangkan pendekatan mikro berdasarkan pada alokasi pengeluaran per komponen pendidikan yang digunakan peserta didik. Untuk menyusun suatu perencanaan pembiayaan atau yang bisa disebut dengan rencana anggara, hal-hal yang harus diperhatikan antara lain: 1. Mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan selama periode anggaran. 2. Mengidentifikasikan sumber-sumber yang dinyatakan dalam uang, jasa, dan barang. 3. Semua sumber dinyatakan dalam bentuk uang sebab uang pada dasarnya merupakan pernyataan financial.

Selasa, 18 Desember 2012

PNDEKATAN ILMU-ILMU SOSIAL-HUMANIORA


BAB I
PENDAHULUAN


Seiring dengan pembidangan ilmu dalam studi Islam, pendekata dalam studi Islam pun mengalami perkembangan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan . Pada pembahasan kali ini akan di jelaskan sejumlah pendekatan yang digunakan dalam studi Islam. Tetapi sebelumnya akan kita tinjau dahulu  mengenai pengertian agama karena  yang akan dibahas  antara agama dan pendekatan studi Islam saling berhubungan.

Dari segi tingkatan kebudayaan, agama merupakan universal cultural. Salah satu prinsip teori fungsional menyatakan bahwa segala sesuatu yang tidak berfungsi akan lenyap dengan sendirinya. Karena sejak dulu hingga sekarang agama dengan tangguh menyatakan eksistensinya, berarti agama mempunyai dan memerankan sejumlah peran dan fungsi di masyarakat[1]. Oleh karena itu, secara umum studi Islam menjadi penting karena agama termasuk Islam memerankan sejumlah peran dan fungsi di masyarakat.

Menurut Harun Nasution dalam simposium[2] menyatakan bahwa persoalan yang menyangkut usaha perbaikan pemahaman dan penghayatan agama terutama dari sisi etika dan moralitasnya kurang mendapat tempat memadai. Lebih lanjut, situasi keberagamaan di Indonesia cenderung menampilkan kondisi keberagamaan yang legalistic dan formalistic. Agama “harus” di manifestasikan dalam bentuk ritual-formal, sehingga muncul formalism keagamaan yang lebih mementingkan “bentuk” daripada “isi”.
 Kondisi seperti itu menyebabkan agama kurang dipahami sebagai perangkat paradigma moral dan etika yang bertujuan membebaskan manusia dari kebodohan, keterbelakangan dan kemiskinan. Di samping itu, formalism gejala keagamaan yang cenderung individualistic daripada kesalehan sosial mengakibatan munculnya sikap kontra produktif seperti nepotisme, kolusi dan korupsi[3].
Dari gambaran umat Islam Indonesia di atas, kita dapat mengetahui bahwa agama Islam di Indonesia belum sepenuhnya dipahami dan dihayati oleh umat Islam. Oleh karena itu, signifikansi studi Islam di Indonesia adalah mengubah pemahaman da penghayatan keislaman masyarakat Muslim Indonesia secara khusus, dan masyarakat beragama pada umumnya. Adapun perubahan yang diharapkan adalah format formalism keagamaan Islam diubah menjadi format agama yang substantif.


BAB II
PEMBAHASAN

PNDEKATAN ILMU-ILMU SOSIAL-HUMANIORA

1.Pendekatan  Sosiologi
            Sebelum membahas pendekatan sosiologi ada pengetahuan dasar sosiologi yang perlu diketahui. Dalam sosiologi ada pranata social. Pranata social adalah suatu sistemnorma atau aturan – aturan mengenai aktifitas masyarakat, sementara yang disebut social sederhana adalah masyarakat itu sendiri. Maka pranata social adalah himpunan kaidah-kaidah atau aturan-aturan yang di pahami, dihargai dan ditaati oleh warga masyarakat dan bertujuan untuk mengatur kehidupaqn masyarakat.
Pelapisan social adalah prbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam tatanan atau urutan aecara bertingkat atau hirarkis. Ada beberapa wujud pelapiosan masyarakat yaitu :
  • Tinggi-rendah
  • Bangsawan / berdarah biru – rakyat biasa
  • Superior – inferior
  • Unggul – biasa
  • Priyayi – wong cilik, dan semacamnya.

            Pelapisan social muncul karena adanya sesuatu yang  dihargai oleh masyarakat sperti, harta benda , ilmu pengetahuan , kekuasaan , keturunan keluarga terhormat, kesholehan dalam ilmu agama, dan lain sebagainya. Karena hal itulah strata atau tingkatan social selalu ada dalm nasyarakat.

Adapun teori tentang munculnya lapisan-lapisan dalam masyarakat adalah        sebagai berikut :
    1. Terjadi secara otomatis atau dengan sendirinya, misalnya lapisan berburu karena kepandaian berburu, seseorang yang dermawan akan dihormati karena kedermawannya.
    2. Sengaja disusun untuk mencapai tujuan tertentu, yang sering disebut dengan pembagian kerja, tanggung jawab dan sebagainya, misalnya pembagian kerja dan tanggung jawab dalam suatu organisasi, politik, pendidikan, dan sebagainya.

Sedangkan sifat system lapisan dalam masyarakat ada dua yaitu :
  1. Bersifat Tertutup, artinya tidak memberikan kemungkinan pindahnya seseorang dari satu lapisan ke lapisan yang lain. Contoh system kasta dalam agama Hindu.
  2. Bersifat Terbuka, yakni memungkinkan seseorang pindah dari satu lapisan ke lapisan lain.

Faktor yang dijadikan titk tolak mencapai kesamaan derajat adalah adnay pengakuan terhadap hak asasi manusia. Sementara factor yang membedakan elit dan massa adalah :
  1. kekayaan
  2. kedudukan
  3. kekuasaan
  4. ilmu pengetahuan
  5. ukuran kehormatan, karena tua, karena berjasa, dan semacamnya.

Sedangkan sesuai  dengan fungsinya elit dalam masyarakat mencakup :
  1. elit dalam aspek politik
  2. elit dalam aspek ekonomi
  3. elit dalam aspek pendidikan
  4. elit dalam aspek agama
  5. elit dalam aspek profesi, seperti dokter, guru, dan sebagainya.
Menurut Karl Marx kelas dilihat dari aspek ekonomi adalah :
    • kelas pemilik tanah atau pemilik alat-alat produksi ( borjuis / majikan )
    • kelas pemilk tenaga ( buruh / pekerja )

            Hubungan antara peran dan status, bahwa peran tidak dapat dipisahkan dari kedudukan / status. Adapun maksud status adalah kedudukan, yakni tempat seseorang dalam suatu kelompok social sehubungan dengan orang-orang lain dalam kelompok tersebut. Ada dua jenis status / kedudukan:
    1. Ascribe status, yakni status yang didapat secara otomatis tanpa usaha, tanpa memperhatikan kemampuan, missal status bangsawan atau kasta yang diperoleh dari orang tua sejak lahir.
    2. Achieve status, yaitu status seseorang yang diperoleh dengan usaha-usaha yang disengaja

Teori-teori lain yang berhubungan dengan pendekatan soiologi adalah teori perubahan social, yaitu:
1.      Teori Evolusi
2.      Teori Fungsionalis.
3.      Teori Modernisasi
4.      Teori Sumber Daya Manusia
5.      Teori Konflik
6.      Teori Ketergantungan
7.      Teori Pembebasan
           
Sebagai tambahan, dalam kaitanya dengan agama ( Islam )sebagai gejala social, pada dasarnya bertumpu pada konsep sosiologa agama. Awalnya sosiologi mempelajari timbale-balik antara agama dan masyarakat. Tetapi belakangan ini, sosiologi agama mempelajari bagaimana agama mempengaruhi masyarakat, dan boleh jadi masyarakat memoengaruhi konsep agama. Dalam kajian sosiolgi ini, agama dapat sebagai independent variable maupun dependent variable.
            Sebagai dependent variable berate agama dipengaruhi factor / unsur lain. Sementara sebagai independent variable berate Islammempengaruhi factor / unsure lain. Namun demikian , al-Ghozali secara subtansial telah merumuskan kajian sosiologi ini dalam kajian hokum Islam. Berangkat dari definisi al-Ghozali tentang objek kajian hokum Islam dan tesinya tantang perpaduan wahyu dan rakyu, bahwa penelitian hokum Islam secara garis besar ada dua, yaitu:

a. Penelitian hokum deskriptif ( wasfi )
b. Penelitian hokum normative / preskriptif ( mi’yari )

Penelitian deskriptif menekankan pada penjelasan hubungan antara variable hokum dengannon-hukum, baik sebagai variable dependent maupun independent.

2.Pendekatan  Antropologi
            Antropologi secara sederhana adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat dan kebudayaan. Antropologi berdiri sendiri sebagai ilmu dimulai abad ke-19. Pada awalnya kajian para antropolog cenderung menitikberatkan  pada penerapan teori evolusi Darwin. Kemudian di akhir abad ke-19 ada kritik terhadap teori evolusi. Para pengeritik berargumen bahwa yang terjadi adalah adanya perbedaan pada kelompok-kelompok masyarakat, buikan proses perkembangan ynag sifatnya evolusiotik.
            Ada beberapa cabang antropologi yaitu:
  1. antropologi linguistic
  2. antropologi budaya
  3. antropologi arkeologi
  4. antropologi agama, dan lai-lain.

Agama sebagai sasaran sudi antropologi dapat disimpulkan dalam dua hal. Pertama antropologi yang merupakan bagian dari kebudayaan dan menjadi salah satu sasaran kajian yang penting sehingga menghasilkan kajian cabang tersendiriyang disebut dengan antropologi agama.

Dalam kaitannya dengan Islam ebagai gejala antropologi, sangat banyak objek kajianyang dapat dilakukan. Ada lima ( 5 ) gejala yang dapat diteliti, yakni:
a.       scripture, naskah, sumber ajaran, symbol-simbol .
b.      penganut, pemimpin, tokoh agama, pemahaman, dan sbagainya.
c.       ritus-ritus, lembaga-lembaga, dan ibadat-ibadat seperti sholat, puasa, haji, dan sebagainya.
d.      Alat-alat agama dan keagamaan, seperti masjid, peci, tasbih, dan lain-lain.
e.       Organisasi social keagamaan, seperti NU, Muhammadiyah, Persis dan lain-lain.

3.Pendekatan Gender
Analisis gender adalah alat analisis untukmemahami realitas social sebagamana layaknya teori social lainnya. Sebagaiteori tugas utama analisis gender adalah memberi makna konsepsi, asumsi, ideology dan praktek hubungan baru antara kaum adam dan hawa, serta implikasinya dalam kehidupan social yang lebih luas (social,politik,ekonomi,cultural) yang tidak dilihat oleh teori atau pun analisis social lainya.
            Terbentuknya perbedaan – perbedaan gender disebakan beberapa hal , diantaranya, dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikontruksi secara sosial  dan kulturalmelalui ajaran keagamaan maupun Negara. Melalui proses panjang tersebut akhirnya dianggap kodrat.
            Berbicara tentang pendekatan  gender  kurang lengkap sebelum membicarakan pendekatan feminis. Sebab dapat dikatan bahwa gender itu sendiri bagian dari feminis. Ada beberapa teori tentang feminis diantaranya adalah :
      1. feminisme liberal
      2. feminisme radikal
      3. feminisme marxisme
      4. feminisme sosial
      5. feminisme Islam

Dalam teori feminisme, Islam memberikan kesejajaran antara laki-laki dan permpuan dalam melakukan karya ( amal ). Unsur yang membedakan seorang dari orang lain adalah dilihat dari kualitas diri ( taqwa a0, bukan jenis kelamin, bukan warna kulit, bukan pula etnis, bukan bangsa , dan lain-lain.

4.Pendekatan Sejarah
            Dalam pendekatan sejarah ada dua teori yang dapat digunakan yaitu : (1) idealis approach, dan (2) reductionalist approach. Maksud approach idealist adalah seorang peneliti yang berusaha memahami dan menafsirkan fakta sejarah dengan memercayai secara penuh fakta yang ada tanpa keraguan. Sedang reductionalist approach adalah seorang peneliti yang berusaha memahami dan menafsirkan fakata sejarah dengan penuh keraguan.
Ada tiga teori lain yang penting dipahami dengan pendekatan sejarah, yakni : (1) diakronik (2) sinkronik, dan (3) system nilai. Dikronik adalah sejarah dan perkembangan satu fenomena yang sedang diteliti. Sinkronik adalah konstektualisasiatau sosiologis kehidupan yang mengitari fenomena yang sedang diteliti. Sistem nilai adalah system nilai atau budaya di mana dia hidup. Maka penelitian dengan teori diakroni, sinkronik, dan system budaya adalah penelitian yang menelusuri latar belakang dan perkembangan fenomena yang diteliti lengkap dengan sejarah sosio-historis dan nilai budaya yang mengitarinya. Maka menjadi wajar kalau alat analisis ini lebih dikenal sebagai sebagai alat analisis sejarah dan/atau social(sosiologi).

5.Pendekatan Semantik
           
Semantik dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani ‘sema’ (kata benda) yang berarti ‘tanda’ atau ‘lambang’. Kata kerjanya adalah ‘semaino’ yang berarti ‘menandai’atau ‘melambangkan’. Yang dimaksud tanda atau lambang disini adalah tanda-tanda linguistik (Perancis : signé linguistique).
Menurut Ferdinan de Saussure (1966), tanda lingustik terdiri dari :
1)      Komponen yang menggantikan, yang berwujud bunyi bahasa.
2)      Komponen yang diartikan atau makna dari komopnen pertama.
Kedua komponen ini adalah tanda atau lambang, dan  sedangkan yang ditandai atau dilambangkan adaah sesuatu yang berada di luar bahasa, atau yang lazim disebut sebagai referent / acuan / hal yang ditunjuk.
Jadi, Ilmu Semantik adalah :
è Ilmu yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya.
è Ilmu tentang makna atau arti.

Istilah Semantik lebih umum digunakan dalam studi ingustik daripada istilah untuk ilmu makna lainnya,seperti Semiotika, semiologi, semasiologi,sememik, dan semik. Ini dikarenakan istilah-istilah yang lainnya itu mempunyai cakupan objek yang cukup luas,yakni mencakup makna tanda atau lambang pada umumnya. Termasuk tanda lalulintas, morse, tanda matematika, dan juga tanda-tanda yang lain sedangkan batasan cakupan dari semantik adalah makna atau arti yang berkenaan dengan bahasa sebagai alat komunikasi verbal.

            Berlainan dengan tataran analisis bahasa lain, semantik adalah cabang imu linguistik yang memiliki hubungan dengan Ilmu Sosial, seperti sosiologi dan antropologi. Maksud pendekatan semantic adalah kajian yang menekankan pada aspek bahasa. Maka studi Islam dengan pendekatan semantic sama artinya dengan studi tentang Islam dengan menekankan pada unsure bahasa, yang dalam bahasa Arab sering disebut dengan lughawi. Pendekatan ini sudah demikian popular dalam kajian tafsir dan fikih.

Dalam penelitian hukum Islam dengan pendekatan semantic ada dua pendekatan yang umum digunakan, yakni : (1) sisi bahasa, dan (2) illat dan hikmah ( analog dan hikmah ). Tetapi disamping dua teori inidigunakan pula teori penyelesaian terhadap dua dalil/nash yang kelihatannya bertentangan, yang terkenal denagn ta’arul al-adillah. Maka yang dimaksud semantic adalah sisi bahasa yang cakupan bahasanya demikian luas, antara lain dari sisi struktur / gramatikal,tunjukannya djalalah dan dari segi maknawi.

Semantik  dianggap salah satu ilmu yang sangat penting karena dengan ilmu ini akan dapat dapahami pesan-pesan Allah lewat  Al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam. Munculnya konsep ‘amm dan khas , muhkam, dan mutashabih, mutlaq dan muqayyad, qati’I dan dhanni, dan sejenisnya adalah hasil kajian dengan semantic.

6.Pendekatan Filologi

Filologi adalah pengetahuan tentang sastra-sastra dalam arti luas yang mencakup sastra bahasa dan kebudayaan. Maka filologi berguna untuk meneliti bahasa, meneliti kajian linguistic, makna kata-kata dan penilaian terhadap ungkapan karya sastra. Dengan demikian maka yang menjadi objek dari filologi adalah naskah klasik yang ditulis tangan.
Ada dua hal pokok dalam kegiatan filologi yaitu penulisan/ penyalinan kembali terhadap text asli dan pemahaman/memahami text asli yang ada.  Konsekuensi yang mungkin terjadi dari kedua hal tersebut adalah kesalahan dan perubahan. Hal tersebut dikarenakan antara satu orang dengan orang yang lain memiliki perbedaan pemahaman bahasa, perbedan dalam memahami pokok persoalan dalam text. Selain factor internal tersebut, ada juga factor external yang mengakibatkan kesalahan dalam kegiatan filologi, yaitu adalah factor tulisan yang kurang jelas, salah baca dan kurang teliti.Maka, yang menjadi pokok kajian filologi adalahmemahami dan menyalin text untuk disesuaikan dengan text aslinya.
7.Pendekatan Hermeneutik
Dalam tradisi Islam, hermeneutik sering disamakan dengan tafsir. Sebab secara etimologi hermeneutik berasal dari bahasa Yunani yaitu Hermeneueia yang berarti menafsirkan. Istilah ini mengacu pada tokoh mitologi Yunani kuno bernama hermes yang bertugas menerjemahkan bahasa-bahasa Tuhan dari gunung Olympus ke dalam bahasa manusia agar dapat dipahami.
Dari sini, hermeneutik menjadi identik dengan metode penafsiran/ interpretasi. Karena itu, dalam mendefinisikan hermeneutik E. Sumaryono menyebut hermeneutic sebagai “proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti”. Dalam perkembangannya, hermeneutik dikenal sebagai sebuah metodologi interpretasi yang unggul. Sehingga, bukan saja dalam tradisi agama, dalam disiplin ilmu filsafat, seni, dan disiplin keilmuan yang lain hermeneutik menjadi cukup populer. Hermeneutik tidak saja dijadikan sebagai pisau bedah untuk menafsirkan teks-teks suci agama, namun juga karya-karya ilmiah maupun beberapa karya sastra lain yang masih memerlukan penjelasan lebih lanjut.
Hermeneutik mulai dikenal dalam dunia Islam sejak para sarjana Islam yang belajar di Barat dan kemudian memperkenalkan ilmu yang diperoleh dalam lingkungannya. Lebih lanjut, diskursus hermeneutik akhirnya menjadi cukup akrab dengan al-Qur’an. Sebab metode interpretasi ini diduga kuat setali tiga uang dengan tafsir, khususnya tafsir bir-Ra’yi atau ta’wil yang sudah lama digeluti oleh beberapa ulama dalam menafsirkan al-Qur’an.
Pada dasarnya ruang lingkup hermeneutik mencakup tiga elemen yaitu teks, pengarang atau penafsir dan audiens (pembaca) yang disebut Triadic Structure. Triadic structure ini, masing-masing memiliki horizon ruang dan waktu yang berbeda. Teks lahir pada dimensi ruang dan waktu tertentu; penafsir membumikan teks dalam sejarah yang berbeda; sementara pembaca silih berganti lintas ruang dan waktu.
Tugas hermeneutik pada intinya adalah mendialogkan dengan seimbang triadic structure tersebut. Dialog yang seimbang berusaha menyajikan teks yang hidup dalam sejarah tertentudalam horizon waktu kekinian. Sebab menurut Wilhelm Dilthey, hermeneutik pada dasarnya bersifat menyejarah. Artinya makna itu sendiri tidak pernah “berhenti pada satu masa” saja, tetapi selalu berubah menurut modifikasi sejarah, maka interpretasipun bagai benda cair, tak pernah ada suatu hukum untuk interpretasi. Seperti halnya al-Qur’an harus tetap dapat menjadi solusi dan alternatif bagi persoalan kemanusiaan yang bersifat lintas ruang dan waktu. Sehingga ungkapan Islam Sholih fikulli zaman wa makan dapat terwujud.
8.Pendekatan Wacana
Pendekatan wacana lebih umum disebut analisis wacana. Analisis ini digunakan untuk melacak dan menganalisis historisitas lahirnya konsep lengkap dengan latar belakangnya. Teori yang umum digunakan dengan pendekatan ini adalah pendekatan arkeologi Ilmu Pengetahuan yang ditawarkan Michel Foucoult ( 1926-1984 )


BAB III
KESIMPULAN

1.        Mempelajari pendekatan studi Islam ini agar mengetahui persoalan yang menyangkut usaha perbaikan pemahaman dan penghayatan agama terutama dari sisi etika dan moralitasnya selama ini masih kurang mendapat tempat yang memadai.
2.        Pertumbuhan studi Islam berkembang hampir diseluruh negara di dunia, baik di dunia Islam maupun bukan negara Islam. Di dunia Islam terdapat pusat-pusat studi Islam seperti Universitas al-azhar di Mesir dan Universitas Ummul Qura di Arab Saudi. Di Teheran didirikan Universitas Teheran. Di Universitas ini studi Islam dilakukan dalam satu fakultas yang di sebut Kulliyat Illahiyyat  (fakultas agama) dan sebagainya.



DAFTAR PUSTAKA

Nasution, Khoeruddin.2009. Pengantar Studi   Islam. Yogyakarta:ACAdeMIA+TAZZAFA
Djamari.1993.Agama dalam Perspektif Sosiolog. Bandung: Alfabeta
Nasution, Harun.1985. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek Jilid I. Jakarta: UI Press
Nasution, Harun.2002.Format Baru Gerakan Keagamaan, dalam  Atang  Abdul Hakim dan Jaih Mubarok, Metodelogi Studi Islam. Bandung: Rosdakarya




[1] Djamari, Agama dalam Perspektif Sosiologi, Bandung: Alfabeta. 1993. Hal 25.
[2] Dalam pengantar simposium Nasional yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Pascasarjana (FKMP) IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tanggal 6 agustus 1998 di Pusat Pengkajian Islam dan Masyarkat (PPIM).
[3] Harun Nasution, Format Baru Gerakan Keagamaan, dalam  Atang  Abdul Hakim dan Jaih Mubarok, Metodelogi Studi Islam, Bandung: Rosdakarya, 2002. Hal 8.

RPP ASMAUL HUSNA 1 LEMBAR KURIKULUM 2013

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Untuk BDR . Satuan Pendidikan           : SMP NEGERI 16 YOGYAKARTA Mata Pelajaran                ...