Selasa, 18 Desember 2012

pemikiran filosofis ibnu khaldun tentang pendidika

 Pemikiran Filosofis Ibnu Khaldun Tentang Pendidikan
Makalah ini disusun guna memenuhi
Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Sutrisno, M. Ag.

Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: F:\KULIAH\logouin.png
Disusun Oleh:
Muhammad Tasdik                 (10411073)

5 PAI B


PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SUNAN KALI JAGA
YOGYAKARTA
2012






BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Di dalam dunia pendidikan sekarang ini banyak dijumpai masalah-masalah pendidikan baik itu tentang pendidik, peserta didik dan kurikulum yang tidak bisa di jawab dengan cara ilmiah. Dalam hal ini probem-probem seperti itu hendaknya diselesaikan dengan cara pendekatan filosofis tentang pendidikan islam, dalam hal ini filsafat pendidikan islam diharapkan akan banyak memberi kontribusi dan kemudahan dalam memahami problematika di dalam dunia pendidikan islam. Filsafat pendidikan islam sebagai suatu ilmu baru yang di akibatkan adanya hubungan timbal balik antara filsafat dan pendidikan dalam islam untuk memecahkan dan menjawab masalah-masalah pendidikan islam secara filosofis.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana riwayat hidup dan karya-karya Ibnu Khaldun?
2.      Bagaimana konsep pendidikan menurut Ibnu Khaldun?
C.    Tujuan dan Manfaat
1.      Mengetahui riwayat hidup dan karya-karya Ibnu Khaldun.
2.      Memahami konsep pendidikan menurut Ibnu Khaldun.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Riwayat Hidup Ibnu Khaldun
Ibnu Khaldun nama lengkapnya adalah Abdullah abd al- Rahman Abu Zayd Ibn Muhammad Ibn Khaldun. Ia lahir di Tunisia pada tanggal 1 Ramadhan 732 H, bertepatan dengan tanggal 27 Mei 1332 M. Beliau hidup dan berkembang dalam sebuah keluarga asli arab dari Qabilah Yamani yang menekuni ilmu dan politik. Ayahnya bernama Abu Abdullah Muhammad. Ayahnya adalah seorang yang berkecimbung dalam dunia perpolitikan, kemudian ayahnya mengundurkan diri dari bidang politik dan dia menekuni ilmu pengetahuan dan kesufian. Ayahnya sangat ahli dalam bahasa dan sastra arab. Ayahnya meninggal pada tahun 794H/384M akibat wabah pes yang melanda afrika utara, pada saat itu Ibnu Khaldun baru berusia 18 tahun.[1]
Pada tahun 1362 Ibnu Khladun pindah ke Negara Spanyol dan bekerja pada raja Granada. Di Granada, ia menjadi utusan raja untuk berunding dengan Pedro (raja Granada) dan raja Castila di Sevilla. Karena kecakapan yang luar biasa, ia ditawari kerjasama oleh penguasa kristiani, dengan imbalan tanah bekas milik keluarganya dikembalikan kepadanya.akan tetapi Ibnu Khaldun pada akhirnya memilih bekerjasama dengan raja Granada, dan ia memboyong keluarganya dari Afrika. Ia tidak lama tinggal di Granada. Ia selanjutnya kembali ke afrika dan diangkat menjadi perdana mentri oleh sultan al-jazair.
Pada tahun 1382, ia melaksanakan ibadah haji. Setelah melaksanakan haji, ia kemudian berangkat ke Iskandariah dan selanjutnya ke Mesir. Di Mesir, ia kemudian diangkat menjadi Ketua Mahkamah Agung pada masa pemerintahan Dinasti Mamluk. Selain dikenal sebagai filosof, Ibnu Khaldun juga terkenal sebagai sosiolog yang memiliki perhatian besar terhadap bidang pendidikan. Pada tahun 1406, Ibnu Khaldun meninggal di Mesir pada usia 74 tahun.
Pendidikan pertama yang beliau pelajari pada masa kecilnya adalah mempelajari dasar-dasar ilmu bahasa arab tentang pemahaman dasar-dasar Al-Qur’an, beliau belajar ini kepada gurunya yang bernama Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Said Al-Anshary. Beliau mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menekuni ilmu pengetahuan Tidak sedikit guru-guru yang telah beliau timba ilmunya, antara lain Syaikh Abu Abdullah Ibn al- Arabial- Hasyiri, , Muhammad Al-Syawas Al-Zarazli, Ahmad Ibn Al-Qassar (bellajar ilmu Hadis, Bahasa Arab, Fiqh), Abdullah Muhammad Ibn Abd al-Salam (tentang kitab al- Muwattha’ karya Imam Malik), Muhammad Ibn Sulaiman al-Satti, Abdullah al-Muhaimin al-Hadrami, dan Muhammad Ibn Ibrahim al-Abili (belajar ilmu- ilmu pasti, Logika dan seluruh ilmu (teknik) kebijakan dan pengajaran disamping dua ilmu pokok (Al-Qur’an dan Hadis).[2]

B.     Konsep Pendidikan Menurut Ibnu Khaldun
1.      Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun adalah[3]:
a.       Memberikan kesempatan kepada pikiran untuk aktif dan bekerja, karena aktifitas penting bagi terbukanya fikiran dan kematangan individu, yang pada gilirannya kematangan individu ini bermanfaat bagi masyarakat.
b.      Memperoleh berbagai ilmu pengetahuan, sebagai alat yang membantu manusia agar dapat hidup dengan baik, dalam rangka mewujudkannya masyarakat yang maju dan berbudaya.
c.       Memperoleh lapangan pekerjaan yang dapat digunakan untuk mencari penghidupan.
Dari tujuan di atas, Ibnu Khaldun berpendapat bahwa pendidikan atau ilmu dan mengajar merupakan suatu kemestian dalam membangun masyarakat manusia. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa maksud pendidikan menurut Ibnu Khaldun adalah mentransformasikan nilai-nilai yang diperoleh dari pengalaman untuk dapat mempertahankan eksistensi manusia dalam peradaban masyarakat. Pendidikan adalah upaya melestarikan dan mewariskan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat, agar masyarakat tersebut bisa tetap eksis. Inilah kiranya tujuan utama pendidikan menurut Ibnu Khaldun. Dalam konteks ini, Ibnu Khaldun telah memandang pendidikan sebagai bagian dari proses peradaban manusia.
2.      Cara Memperoleh Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan menurut Ibnu Khaldun merupakan kemampuan manusia untuk membuat analisis dan sintesis sebagai hasil dari proses berfikir. Manusia dalam berfikir mengalami tingkatan-tingkatan tertentu, yakni:[4]
a.       Pemahaman intelektual manusia terhadap segala sesuatu yang ada di luar alam semesta, tatanan alam atau tata yang berubah-ubah. Intelektualitas manusia dapat memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk, salah dan benar, terpuji dan tercela. Ibnu Khaldun menyebutnya sebagai akal pembela atau al-aql at-tamyizi.
b.      Daya intelektualitas manusia yang didukung oleh pengalaman hidupnya yang disebut sebagai akal eksperimental atau al-‘aql at tajribi.
c.       Daya berfikir hipotesis yang melengkapi kesempurnaan intelektualitas manusia melalui ketajaman analisis masalah yang dihadapi, sehingga dapat memperkirakan sebagai kemungkinan secara rasional dan spekulatif. Cara berfikir hipotesis harus didukung oleh ilmu, artinya manusia dalam intelektualitas tingkatan ketiga sudah membekali diri dengan ilmu dan dengan appersepsi terhadap sesuatu yang ada dibelakang segala hal yang sifatnya indrawi. Relitas intelektual seperti ini tidak memutlakkan keberadaan yang indrawi sebab tidak semua yang wujud harus inderawi dan yang inderawi harus wujud. Sesungguhnya realitas itu bersifat fenomenal, menurut apa adanya dan keadaan dirinya. Inilah yang disebut sebagai realitas kemanusiaan atau al-haqiqah al-insaniyyah.
Berkenaan dengan ilmu pengetahuan, Ibnu Khaldun membaginya menjadi tiga macam, yaitu:[5]
a.       Yaitu Ilmu lisan (bahasa) yaitu ilmu tentang tata bahasa (gramatika) sastra atau bahasa yang tersusun secara puitis (sya’ir).
b.      Ilmu naqli, yaitu ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunnah Nabi. Ilmu ini berupa membaca kitab suci al- Quran dan tafsirnya, sanad dan hadits yang pentashihannya serta istimbat tentang kaidah-kaidah fiqih. Dengan ini manusia akan dapat mengetahui hukum-hukum Allah yang diwajibkan kepada manusia. Dari Al-Quran itulah akan didapati ilmu-ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu ushul fiqih yang dapat dipakai untuk menganalisa hukum-hukum Allah itu melalui cara istinbath.
c.       Ilmu ‘aqli, yaitu ilmu yang dapat menunjukkan manusia dengan daya pikir atau kecerdasannya kepada filsafat dan semua ilmu pengetahuan. Termasuk didalam kategori ilmu ini adalah ilmu mantiq (logika), ilmu alam, ilmu ketuhanan, ilmu-ilmu teknik, ilmu hitung, ilmu tingkah laku (behavior) manusia, termasuk juga ilmu sihir dan ilmu nujum (perbintangan). Mengenai ilmu nujum, Ibnu Khaldun menganggapnya sebagai ilmu yang fasid, karena ilmu ini dapat dipergunakan untuk meramalkan segala kejadian sebelum terjadi atas dasar perbintangan. Hal ini merupakan suatu yang batil, berlawanan dengan ilmu tauhid yang menegaskan bahwa tak ada yang menciptakan kecuali Allah.
Di antara ilmu tersebut ada yang harus diajarkan kepada anak didik, yaitu:[6]
1)      Ilmu Syari’ah dengan semua jenisnya.
2)      Ilmu filsafat seperti ilmu alam dan ilmu ketuhanan.
3)      Ilmu alat yang membantu ilmu agama seperti ilmu bahasa, gramatika, dan sebagainya.
4)      Ilmu alat yang membantu ilmu falsafah seperti ilmu mantiq.
Selain itu Ibnu Khaldun berpendapat bahwa Al-Quran adalah ilmu yang pertamakali harus diajarkan kepada anak, karena mengajarkan Al-quran kepada anak termasuk syari’at Islam yang dipegang teguh oleh para ahli agama dan dijunjung tinggi oleh setiap negara islam. Al-quran yang telah ditanamkan pada anak didik akan jadi pegangan hidupnya, karena pengajaran pada masa kanak-kanak masih mudah, karena otak si anak masih jernih.
3.      Pendidik
Seorang pendidik hendaknya memiliki pengetahuan yang memadai tentang perkembangan psikologis peserta didik. Pengetahuan ini akan sangat membantunya untuk mengenal setiap individu peserta didik dan mempermudah dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Para pendidik hendaknya mengetahui kemampuan dan daya serap peserta didik. Kemampuan ini akan bermanfaat bagi menetapkan materi pendidikan yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik. Bila pendidik memaksakan materi di luar kemampuan peserta didiknya, maka akan menyebabkan kelesuan mental dan bahkan kebencian terhadap ilmu pengetahuan yang diajarkan. Bila ini terjadi, maka akan menghambat proses pencapaian tujuan pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara materi pelajaran yang sulit dan mudah dalam cakupan pendidikan.
Dalam melaksanakan tugasnya, seorang pendidik hendaknya mampu menggunakan metode mengajar yang efektif dan efisien. Ibnu Khaldun mengemukakan 6 (enam) prinsip utama yang perlu diperhatikan pendidik, yaitu:[7]
a.       Prinsip pembiasaan
b.      Prinsip tadrij (berangsur-angsur)
c.       Prinsip pengenalan umum (generalistik)
d.      Prinsip kontinuitas
e.       Memperhatikan bakat dan kemampuan peserta didik
f.       Menghindari kekerasan dalam mengajar.  

4.      Peserta Didik
Ibnu Khaldun memandang peserta didik sebagai yang belajar (muta’alim) atau seorang yang perlu bimbingan (wildan). Dalam posisinya sebagai muta’alim, peserta didik dituntut mengembangkan segala potensi yang Allah anugerahkan kepadanya. Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah-nya telah memberikan beberapa petunjuk bagaimana seorang  muta’alim bisa berhasil dalam studinya.[8]
Ibnu Khaldun memandang peserta didik sebagai subjek didik, bukan objek didik, yang memiliki potensi yang dapat dikembangkan melalui proses pendidikan. Ini menandakan bahwa Ibnu Khaldunmemiliki pandangan yang optimistik terhadap peserta didik. Peerta didik bagi Ibnu Khaldun merupakan subjek didik yang dituntut kreativitasnya agar dapat mengembangkan diri dan potensinya. Perlakuan ini membuat pendidikan sebagai ajang atau wahana yang dapat menumbuhkan kreativitas peserta didik. Peserta didik sebagai subjek didik dituntut aktif dan kreatif dalam melakukan proses belajarnya. Adapun dalam posisinya sebagai wildan, Ibnu Khaldunmemandang peserta didik sebagai seorang anak manusia yang memerlukan bantuan orang lain, agar terbimbing dalam kedewasaan. Dalam konteks ini Ibnu Khaldun memandang peserta didik sebagaui objek didik yang memerlukan guru sebagai subjek belajar.
Adanya perbedaan istilah yang digunakan Ibnu Khaldun dalam merujuk pengertian peserta didik, sebenarnya menandai adanya perkembangan belajar pada manusia. Pada tahap awal, peserta didik adalah wildan yang memerlukan guru. Konsepsi ini berlaku pada jenjang pendidikan tingkat dasar. Misalnya, Ibnu Khaldun berkata: “ketahuilah bahwa mengajarlkan Al-Quran kepada wildan merupakan suatu syiar dari syiar agama”. Di sini, Ibnu Khaldun menggunakan kata wildan bagi peserta didik yang belajar Al-Quran. Mengapa? Karena dalam tradisi Islam, pendidikan Al-Quran disampaikan sejak permulaan, yakni pada jenjang pendidikan dasar. Pada tahap berikutnya, peserta didik adalah muta’alim yang dituntut mandiri dalam mengembangkan potensinya. Konsepsi ini berlaku pada jenjang pendidikan tingkat tinggi. Pada tahap ini, karena peserta didik sudah dapat berfikir rasional dan logis, maka mereka disebut muta’alim.  
5.      Metode Pengajaran
Menurut Ibnu Khaldun mengajarkan pengetahuan kepada pelajar hanya akan efektif bila dilakukan dengan berangsur-angsur, setapak demi setapak, dan sedikit demi sedikit. Mengajar dengan hal-hal yang sederhana lebih dahulu kepada hal-hal yang kompleks. Pertama-tama guru mengajarkan kepada muridnya problem-problem yang prinsipil mengenai setiap cabang pembahasan yang diajarkan. Keterangan-keterangan yang diberikan haruslah bersifat umum dan menyaluruh, dengan memperhatikan kemampuan akal dan kesiapan pelajar memahami apa yang diberikan kepadanya. Bila dengan cara ini seluruh pembahasan pokok telah dipahami, pelajar yang bersangkutan telah memperoleh suatu keahlian yang masih harus dilengkapi, sehingga hasil keseluruhan keahlian itu dapat menyiapkannya memahami seluruh pembahasan pokok dengan segala seluk beluknya.[9]
Selanjutnya, menjadi kewajiban guru kembali kepada pembahasan pokok, dan meningkatkan pengajaran kepada tingkat yang lebih tinggi. Kali ini guru tidak boleh puas hanya dengan cara pembahasan bersifat umum saja. Tetapi dia harus membahas segi-segi yang menjadi pertentangan dari berbagai pandangan yang berbeda, sehingga pembahasan seluruhnya sekali lagi diliput dan keahlian pelajaran yang bersangkutan lebih disempurnakan.
Kemudian pada suatu kali pelajar yang sudah terlatih harus digiring kepada masalah pokok yang dibahas. Pada tahap ini tidak ada masalah penting, bagaimana sulitnya atau yang menjadi pokok perbantahan, boleh ditinggalkan dan tak terbahas. Semua harus diterangkan kepada si murid itu, hingga dia memungkinkan mencapai keahlian yang sempurna.
Pandangan Ibnu Khaldun yang demikian dirangkum oleh Mustofa Amin dalam Tarikh al-Tarbiyah. Beliau membagi tiga tahap:pertama, diberikan kepada murid pokok-pokok masalah (bahasan) dari tiap-tiap bab dari ilmu yang akan dikerjakan. Dijelaskan secara global dari bab demi bab sampai akhir ilmu itu. Kedua, hendaknya guru mengulang kembali pelajaran yang telah diberikan pada langkah pertama, dari awal secara terinci, tidak ada lagi yang mujmal dan membahas yang khilaf. Ketiga,agar guu mengulangi lagi pelajaran yang sudah diberikan dari awal (semacam review). Tidak ada lagi kesulitan/keraguan dalam pelajaran. Menurut Ibnu Khaldun penyajian pelajaran yang berhasil melalui tiga langkah pengulangan tersebut. Bila dianalisis secara detail metode yang dikemukakan Ibnu Khaldun, relevan dengan pendapat para ahli pendidikan modern yang memunculkan metode-metode pengajaran yaitu: Pertama,metode tadriji (berangsur-angsur). Metode tadriji ini juga sesuai dengan kondisi psikologis manusia, yang tidak dapat menerima materi sekaligus dalam jumlah banyak, tetapi sedikit demi sedikit atau berangsur-angsur. Kedua, metode repetisi (pengulangan). Dikalangan para pendidik modern, metode repetisi dekat dengan metode evaluasi yaitu mengulang pelajaran yang telah disampaikan, untuk mengetahui sampai delama tingkat penguasaan para pelajar terhadap materi yang disampaikan guru. Pengulangan juga jangna terlalu banyak, sebab bagi pelajar yang cerdas akan membosankan. Kalau diamati metode yang disebut Ibnu Khaldun, hanya tiga kali pengulangan, dan pada kali ketiga juga hanya semacam review. Jadi pada kali ketiga ini murid sudah dapat menguasai materi. Ketiga, dari dua metode yang telah disebutkan diatas, memungkinkan sekali hasil yang dicapai pelajar dapat menguasai secara tuntas terhadap materi yang telah diajarkan. Jadi jika dikaitkan dengan teori pendidikan modern, Ibnu Khaldun telah melaksakan pengajaran tuntas (mastery learning).[10]   
6.      Kurikulum
Pemikiran Ibnu Khaldun tentang kurikulum pendidikan dapat dilihat dari konsep epistemologinya. Menurutnya, ilmu pengetahuan dalam kebudayaan umat Islam dapat dibagi kepada dua bagian, yaitu ilmu pengetahuan syar’iyyah dan ilmu pengetahuan filosofis. Ilmu pengetahuan syar’iyyah berkenaan dengan hukum dan ajara agama Islam. Ilmu ini diantaranya adalah tentang al-Qur’an, Hadis, prinsip-prinsip syari’ah, fiqh, teologi, dan sufisme. Sementara ilmu pengetahuan filosofis meliputi logika, ilmu pengetahuan alam (fisika), metafisika, dan matematika. Ilmu pengetahuan filosofis juga sering disebut sains alamiah. Hal ini disebabkan karena dengan potensi akalnya, setiap orang memiliki kemempuan untuk menguasainya dengan baik.[11]
Ilmu pengatahuan syar’iyyah dan filosofis merupakan pengetahuan yang ditekuni manusia (peserta didik) dan saling berinteraksi, baik dalam proses memperoleh atau proses mengajarkan. Konsepsi ini kemudian merupakan pilar dalam merekonstruksi kurikulum pendidikan Islam yang ideal, yaitu kurikulum pendidikan yang mampu mengantarkan peserta didik yang memiliki kemempuan membentuk dan membangun peradaban umat manusia.
Ada tiga kategori kurikulum yang perlu diajarkan kepada peserta didik. Pertama, kurikulum yang merupakan alat bantu pemahaman. Kurikulum ini mencakup ilmu bahasa, ilmu nahwa, ilmu balaghah, dan syair. Kedua, kurikulum sekunder, yaitu matakuliah yang menjadi pendukung untuk memahami islam. Kurikulum ini meliputi ilmu-ilmu hikmah falsafi, seperti logika, fisika, metafisika, dan matematika, yang tergolong dalam al-ulum al-aqliyah. Ketiga, kurikulum primer, yaitu matakuliah yang menjadi inti ajaran islam. Kurikulum ini meliputi semua bidang al-ulum al-naqliyah, seperti ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu qira’at, ilmu ushul figh dan fiqih, ilmu kalam, tasawuf, dan lain-lain.[12]
7.      Spesialisasi
Menurut Ibnu Khaldun, orang yang mendapat keahlian dalam salah satu pertukangan jarang sekali yang ahli dalam pertukangan lainnya, misalnya tukang jahit. Hal ini disebabkan karena sekali seseorang telah menjadi ahli dalam menjahit hingga keahliannya itu tertanam berurat berakar dalam jiwanya, maka setelah itu ia tidak akan ahli dalam pertukangan batu atau kayu, kecuali apabila keahlian yang pertama itu belum tertanam dengan kuat dan belum memberi corak terhadap pemikirannya. Hal ini juga didasarkan pada alasannya bahwa keahlian itu adalah sifat atau corak jiwa yang tidak dapat tumbuh serempak. Dan yang mereka pikirkan masih mentah, dan dalam keadaan masih kosong akan lebih mudah mendapatkan keahlian-keahlian baru yang dapat mereka peroleh dengan lebih mudah. Tetapi apabila jiwa itu telah bercorak dengan semacam keahlian tertentu dan tidak lagi dalam keadaan kosong, maka cetakan keahlian itu akan menjadikan jiwa itu kurang tertarik dan kurang bersedia menerima keahlian-keahlian baru.[13]
Dari uraian diatas, terlihat bahwa Ibnu Khaldun adalah seorang tokoh yang menaruh perhatian yang sangat besar terhadap pendidikan. Konsep pendidikan yang dikemukakannya nampak sangat dipengaruhi oleh pandangannya terhadap manusia sebagai makhluk yang harus dididik, dalam rangka melakanakan fungsi sosialnya di tengah-tengah masyarakat. Pendidikan adalah alat untuk membantu seseorang agar dapat hidup bermasyarakat dengan baik.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dalam dunia pendidikan pada masa dewasa ini, dunia pendidikan memerlukan berbagai refleksi tentang kajian konsep pendidikan dalam perspektif Ibnu Khaldun, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Dia adalah seorang yang sangat menguasai tentang dunia pendidikan dan dia banyak menyumbangkan pemikiran terhadap dunia pendidikan, dia adalah seorang ilmuan dan sarjawan, Khaldun telah merumuskan dengan detail tentang unsure-unsur dalam dunia pendidikan, seperti: pendidik, peserta didik,kurilukum dan masih banyak lainnya. Pemikiran  khaldun  tentang semua itu sangatlah baik dan bagus untuk diteladani baik pada saat itu ataupun pada zaman sekarang ini. Dari segi metode, materi, maupun kurikulum yang ditawarkan secara keseluruhan pantas untuk dikaji dan dicermati.
Pendidik menurut Ibnu Khaldun hendaknya mampu menguasai tingkat psikologi anak didiknya, Para pendidik hendaknya mengetahui kemampuan dan daya serap peserta didik. peserta didik sebagai subjek didik, bukan objek didik, yang memiliki potensi yang dapat dikembangkan melalui proses pendidikan. Dia telah menyajikan pandangan– pandangannya dalam bentuk orientasi umum, sehigga dia mengatakan bahwa aktifitas pendidikan bukan semata-mata bersifat pemikiran dan perenungan, akan tetapi ia merupakan gejala sosial yang menjadi ciri khas insani, dan karenanya ia harus dinikmati oleh setiap makhluk sosial yang bernama manusia.
Karena orientasi pendidikan menurut Khaldun adalah bagaimana caranya kita supaya bisa hidup bermasyarakat. Adapun metode yang ditawarkan Khaldun bersifat intelektualitas, dengan prinsip memberikan kemudahan-kemudahan bagi anak didik agar terciptanya tujuan pendidikan yang hendak dicapai.
B.     Saran
Dengan adanya dan dipresentasikannya makalah ini diharapkan mahasiswa PAI UIN SUNAN KALIJAGA sebagai calon pendidik dapat menjadi pendidik yang baik dan bertanggung jawab sebagai pendidik menurut pandangan Ibnu Khaldun. Sehingga terciptanya proses belajar mengajar yang baik dan membuahkan hasil yang maksimal.
Sepandai- pandainya Tupai melompat pasti jatuh pula, sepandai-pandainya seseorang dalam mencari ilmu pasti ada kekurangannya juga, Tidak ada sesuatu di jagad raya ini yang sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata. Begitu pula dengan penyajian makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan, kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak sekali kekurangnnya, masih banyak membutuhkan saran dan kritik dari temen- temen semua.
DAFTAR PUSTAKA
Basri, Hasan. 2009. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: CV Pustaka Setia.
Nata, Abudin. 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Nizar, Samsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis. Jakarta: Ciputat Pers.
Suharto, Toto. 2006. Filsafat Pendidikan Islam.Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Suwito dan Fauzan. 2003. Sejarah Pemikiran para Tokoh Pendidikan. Bandung: Angkasa.
Ramayulis dan Samsul Nizar. 2009. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia,




[1] Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), hal. 281
 [2] Ibid., hlm.282
[3] Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2006), hal.242.
[4] Hasan Basri, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung:CV Pustaka Setia, 2009), hal.232-233.
[5] Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hal.175-176.
[6] Ibid, hal.176.
[7] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 94-95.
[8] Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2006), hal.244..

[9] Suwito dan Fauzan, Sejarah Pemikiran para Tokoh Pendidikan, (Bandung: Angkasa, 2003), hal. 262.
[10] Ibid, hal. 262-264.
[11] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 95.
[12] Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2006), hal.249.
[13] Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hal. 178

Sosialisasi Peserta Didik


SOSIALISASI PESERTA DIDIK
Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Individu
Mata Kuliah : Sosiologi Pendidikan
Dosen Pengampu: Dr. Sabarudin, M. Si

logo-uin-baru.jpg

OLEH:
MUHAMMAD TASDIK (10411073)
V PAI-B

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SUNAN KALI JAGA
YOGYAKARTA
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu lembaga dimana proses sosialisasi terhadap peserta didik itu terbentuk. Pendidikan berkenaan dengan perkembangan dan perubahan kelakuan serta moral peserta didik. Pendidikan bertalian dengan transmisi perubahan pengetahuan, sikap, ketrampilan dan aspek-aspek kelakuan lainnya kepada generasi muda. Pendidikan adalah proses mengajar dan belajar pola-pola kelakukan yang diharapkan oleh masyarakat.
Kita sepakat bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang tidak asing bagi kita, terlebih lagi kita bergerak di bidang pendidikan. Juga pasti kita sepakat bahwa pendidikan diperlukan oleh semua orang. Bahkan dapat dikatakan bahwa pendidikan ini dialami oleh semua manusia dari  semua golongan.
B.     RUMUSAN MASLAH
A.    Apa Pengertian Sosialisasi?
B.     Apa Sosialisasi di Sekolah?
C.     Apa Kesulitan dari Sosialisasi?
C.     Tujuan penulisan
Dalam pembuatan karya ilmiah tidaklah mungkin tidak ada yang namanya tujuan yang melatar belakangi, dalam bagian ini saya akan sedikit menguraikan beberapa tujuan dari pembuatan makalh ini.
1.      Memeberikan wawasan terhadap Mahasiswa tentang pengertian Sosialisasi.
2.      Memberikan pemahaman terhadap Mahasiswa apa kesulitan- kesulitan yang di hadapi pada saat Sosialisasi pada peserta didik.
3.      Memberikan pemahaman terhadap Mahasiswa tentang maksud dari Sosialisasi dalam sekolah.




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Sosialisasi
sosialisasi merupakan salah satu topik kajian yang dipelajari secara serius. Mengingat arti sosialisasi itu sendiri merupakan proses alamiah yang membimbing individu untuk mempelajari, memahami dan mempraktikkan nilai-nilai, norma-norma, pengetahuan serta keterampilan yang dimiliki oleh masyarakat, sosialisasi memiliki urgensi yang begitu kuat terhadap keberlangsungan pendidikan bagi individu sebagai anggota masyarakat. Proses sosialisasilah yang membuat seseorang menjadi tahu bagaimana seharusnya seseorang bertingkah laku di tengah- tengah masyarakat dan lingkungan budayanya. Proses sosialisasi membawa seseorang dari keadaan belum tersosialisasi menjadi masyarakat dan beradab. Melalui sosialisasi, seseorang secara berangsur-angsur mengenal persyaratan-persyaratan dan tuntutan- tuntutan hidup di lingkungan budayanya.[1]
Sosialisasi adalah soal belajar. Dalam proses sosialisasi individu belajar tingkah laku, kebiasaan serta pola-pola kebudayaan lainnya. Segala sesuatu yang dipelajari anggota masyarakat lainnya, secara sadar apa yang diajarkan oleh orang tua, saudara, dan di sekolah kebanyakan diberikan oleh gurunya. Dengan tak sadar ia belajar dengan mendapatkan informasi secara incidental dalam berbagai situasi sambil mengamati kelakuan orang lain, membaca buku dan mendengar percakapan orang lain.[2]

 karena pentingnya pembahasan sosialisasi, maka secara khusus para ahli memfokuskan perhatian studinya guna mengungkap arti sosialisasi sesuai dengan titik tolak dan sudut pandang yang berbeda-beda. Tokoh-tokoh seperti Kimbal Young, R.S. Lazarus, Havigurst, Naugarten, Thomas Ford Hoult serta George Herbert Mead mengemukakan pengertian sosialisasi mencakup:

1.      Proses sosialisasi adalah proses belajar. Yaitu suatu proses akomodasi di mana     individu menahan, mengubah impulsimpuls dalam dirinya lalu diikuti oleh upaya pewarisan cara hidup atau kebudayaan masyarakatnya,
2.       Dalam proses sosialisasi itu individu mempelajari kebiasaan, sikap, ide-ide, nilai-nilai dan tingkah laku dalam masyarakat di mana ia hidup.
3.      semua sikap dan kecakapan yang dipelajari dalam proses sosialisasi itu diswusun dan dikembangkan secara sistematis dalam pribadinya.
Dengan proses sosialisasi individu berkembang menjadi suatu pribadi atau makhluk sosial. Pribadi atau makhluk sosial ini merupakan kesatuan integral dari sifat-sifat individu yang berkembang melalui proses sosialisasi, hal mana yang mempengaruhi hubungannya dengan orang lain dalam masyaraat.         


B.      Sosialisasi di Sekolah
Sekolah memang menjadi tempat dan menjadi peran penting dalam proses sosialisasi anak, walaupun sekolah merupakan salah satu lembaga yang bertanggung jawab atas pendidikan anak.
Anak mengalami perubahan dalam kelakuan sosial seteklah anak itu masuk ke sekolah. Di rumah ia hanya bergaul dengan orang-orang yang terbatas jumlahnya, terutama dengan saudara-saudaranya dan anak-anak tetangganya. Dirumah suasananya bercorak informal dan banyak kelakuan yang diizinkan menurut suasana rumahnya, banyak sedikit anak itu dimanjakan oleh keluarganya.
                        Di sekolah anak mengalami suasana yang berbeda, ia bukan lagi menjadi anak yang istimewa yang diberi perhatian khusus oleh gurunya, melainkan hanya salah seorang di antara puluhan siswa lainnya didalam kelas itu sendiri. Guru tidak mungkin memberikan perhatian banyak kepadanya karna harus mengutamakan kepentingan kelas sebagai keseluruhannya. Dengan suasana kelas yang sedemikian, anak itu melihat dirinya sebagai salah seorang di antara anak- anak lainnya. Demikian juga dengan rasa egosentrisme berkurang dan di gantikan oleh kelakuan yang bercorak sosial.[3]
Sekolah merupakan lembaga tempat anak mendapatkan pendidikan intelektual, yakni mempersiapkan anak untuk sekolah yang lebih lanjut. Oleh sebab itu cukup penting dan berat, maka perhatian sekolah sebagian besar ditujukan kepada aspek intelektual.
Dalam perkembangan fisik dan psikologis anak, selanjutnya anak itu memperoleh pengalaman- pengalaman baru dalam hubungan sosialnya dengan anak- anak lain yang berbeda status sosialnya.
C.     Kesulitan Sosialisasi
Proses Sosialisasi tidak selamanya berjalan lancer karena adanya sejumlah kesulitan- kesulitan:
a.       Ada kesulitan komunikasi, bila anak tidak mengerti apa yang diharapkannya, atau tak tahu apa yang diinginkan oleh masyarakat atau tuntutan kebudayaan tentang kelakuannya. Hal ini akan terjadi bila anak itu tak memahami lambing-lambang seperti bahasa, isyarat, dan sebagainya.
b.      Adanya pola kelakuan yang berbeda- beda atau yang bertentangan. Masyarakat modern terpecah-pecah dalam berbagai sector atau kelompok yang masing-masing menuntut pola kelakuan yang berbeda-beda. Orang tua mengharapkan agar anak jujur.
Walau demikian tiap orang harus berusaha menyesuaikan diri dengan berbagai situasi sosial, sering juga yang bertentangan normanya. Bila pertentangan itu tajam dan individu tak mampu menyesuaikan diri maka ada kemungkinan ia akan mengalami gangguan psikologis atau sosial.







BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpula
sosialisasi merupakan salah satu topik kajian yang dipelajari secara serius. Mengingat arti sosialisasi itu sendiri merupakan proses alamiah yang membimbing individu untuk mempelajari, memahami dan mempraktikkan nilai-nilai, norma-norma, pengetahuan serta keterampilan yang dimiliki oleh masyarakat.
Sekolah adalah tempat anak-anak untuk mencari intelektual, karna di sekolah anak itu berbeda ketika dia ada di rumah.anak disini di tuntut untuk mandiri dan tidak manja terhadap fasilitas yang ada pada kedua orangtuanya.
B.     Saran
Dengan adanya dan dipresentasikannya makalah ini diharapkan mahasiswa PAI UIN SUNAN KALIJAGA sebagai calon pendidik dapat mengetahui bagaimana cara bersosialisasi dengan peserta didik yang baik dan bertanggung jawab sebagai pendidik. Sehingga terciptanya proses belajar mengajar yang baik dan membuahkan hasil yang maksimal.















DAFTAR PUSTAKA
Ravik Karsidi, Sosiologi pendidikan, Solo : UNS Press & LPP UNS, 2005
Nasution, sosiologi pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara:2004




[1] Ravik karsidi, Sosiologi pendidikan (Solo: UNS press & LPP UNS, 2005) Hal: 18
[2] Nasution, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2004) Hal: 126
[3] Ibid. Hal: 130.

RPP ASMAUL HUSNA 1 LEMBAR KURIKULUM 2013

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Untuk BDR . Satuan Pendidikan           : SMP NEGERI 16 YOGYAKARTA Mata Pelajaran                ...